#9 Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Dear Hana-who-is-about-30-years-old,

if our relationship is like in ‘How I Met Your Mother’ the series, probably this would be the final session (if you know what I mean). And before our time-journey has been ended, I would like to talk about your children, if you let me do.

I don’t know whether you finally decided to name all of your children by poetic phrase or simply the name Tabebuia (like what I am obsessing by now). However, whatever you and your husband give the name, I truly believe that they will grow as beautiful as you wish. And, I actually is curious about having a child. How you manage your time whilst you develop a human from the scratch?

The Learning Babies

Dear Hana-who-is-about-30-years-old, Do you remember business intelligence you had studied in bachelor degree? A numerous amount of data is gathered and makes a pattern of data behaviour.

I am now assuming that humans are just like learning machine that we used to know in college. They absorb informations and things in surrounding and generate the pattern in order to make decision. The children see how you act, how you communicate with your husband, and how your connection with God is, and anything in their vicinity. By all of those inputs, they process and make rule which one is right or wrong, what should and should not be done.

And by that way, I utterly recommend you give the most valuable input towards them: acquainting them with their God. Tell them that they always have One and this what their life is for. In every situation when people never support, when common seems wrong, they will always prioritise God in their journey.

Don’t be such a fool

Lately, I am being such a fool. I do some works that waste my time. No time for reading more, writing in blog (unless this one), having the haircut, spending quality time with family, or arranging the future. I let my self be drowned in pattern.

And I truly don’t want you be that way.

Think your life. Feel it deeply. Don’t get fall in routine with nothing you can’t think of, with nothing you can’t contemplate about. I don’t care whether you are about to get a million dollars project or you have many works from your office. Observe your life as it always gives riddle you have to solve everyday; because the value you can get from life is the learning, not the money collected nor the busy routines you are sinked in.

Think and tell your children what life is about.

Your Children Deserve Better

This is what I am afraid of: being trapped in mediocrity. You think everything is going good. In fact, it is truly good, but not great enough for people like you, your husband, and your children. Your family deserve more than a car and private school.

They deserve a super great mother. She who acts further and thinks beyond common people think. I completely rely on you for how you want your children be. But please, they are worth for the superb parents. And to take that, it needs much and cooperative endeavour.

Your children are too valuable to have a moderate mother.

In the end

you are just a mother, who, together with the man, is entrusted to raise a mini part of one generation. I truly believe that you have put such a big attempt to nurture the children. In the end, when all are said and done, He who owns them.

Advertisements

#6 Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Dear Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun,

maaf aku sedikit merepotkanmu dengan sok mengatur kebun dan dapurmu di surat sebelumnya. Mungkin aku akan memberikan beberapa saran lagi untukmu ke depannya, namun terserah kamu apabila ingin mengabaikannya.

Di surat ini aku tidak akan sok mengatur kehidupanmu. Itu suamimu, anakmu, dan rumahmu, selamat berbahagia. Kali ini aku ingin bertanya tentang kau dan aku.

Akhir-akhir ini aku memikirkan beberapa hal, yang mungkin bisa aku ceritakan padamu. Aku pernah berpikir, apakah aku dan kamu adalah orang yang sama? Maksudku, apakah ketika kamu membaca surat ini, kamu merasa ini ditulis oleh dirimu untuk dirimu atau ditulis oleh seseorang di dimensi ruang dan waktu yang berbeda? Kadang ketika aku menuliskannya, aku merasa ada sosok Hana yang benar-benar berusia 30 tahun sedang membaca surat ini. Entah kapan atau di mana sosok Hana itu saat ini. Continue reading

#5 Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Dear Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun,

wah sudah lama aku tidak mengirimu surat-surat lagi. Sampai-sampai, aku harus melihat surat terakhirku padamu untuk melakukan penomoran kali ini.

Kali ini aku ingin sedikit ikut campur di urusan rumah tanggamu, terutama rumahmu.

Beberapa waktu lalu aku ingin sekali mempunyai kebun bunga matahari. Atau setidaknya, ada bunga matahari di kebunku. Namun saat ini aku harap kamu bisa menghias kebunmu dengan berbagai macam bunga. Aku sempat berpikir, apabila anakmu dibesarkan di sebuah kebun dengan satu macam bunga matahari sepanjang hidupnya, bukankah dia akan berpikiran bahwa bunga di dunia ini hanya bunga matahari? Padahal jika dia bisa pergi ke kebun di rumah sebelah, dia bisa saja melihat bunga anggrek dan mawar yang sama sekali berbeda dengan bunga matahari. Aku tidak ingin anakmu nantinya hanya tahu bunga matahari saja, dia harus melihat berbagai macam bunga di dunia ini, mereka mempunyai keindahan masing-masing. Continue reading

#3 Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Dear Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun,

bagaimana keadaanmu? Sudah makan malam hari ini? Saya belum nih.

Sekarang saya sedang di lab 05 dengan  teman di sebelah kiri saya yang sedang sibuk mengejar deadline tugas esay untuk sebuah beasiswa dan teman di sebelah kanan saya yang sedang sibuk membantu teman di sebelah kiri saya menyelesaikan tugas-tugasnya.  Hmm, sebenarnya saya bingung mau menulis apa hari ini. Namun berhubung saya sudah bertekad untuk menulis 3 hari sekali, saya harus menulis hari ini. Entah tentang apa.

Salah satu perenungan beberapa akhir ini adalah saya kadang tidak memprioritaskan ibadah. Kadang suka lupa sholat dhuha, mengulur-ulur waktu sholat, menunda-nunda waktu mengaji, dll. Ternyata beberapa hal yang bersifat duniawi sangat berpotensi menjadi distraksi dalam mencapai tujuan sebenarnya, ya.

Mungkin karena itu saya sekarang belum mendapat inspirasi untuk menulis. Padahal inspirasi datangnya dari Allah, kan?

Tanpa lilin,

Hana-yang-berumur-kurang-lebih-20-tahun

#2 Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Dear Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun,

apa kabar? Sudah makan? Hmm rasanya aneh bertanya kabar kepada sesuatu yang belum tentu ada. Oya, aku penasaran sekali, sekarang kamu jadi apa? Sudah berapa anaknya? Apa pekerjaanmu sehari-hari? Nanti jangan lupa tulis kabar ya 😀

Anyway, ada beberapa alasan mengapa aku sangat penasaran dengan nasibmu saat ini (terlepas dari ketidakpastian apakah kamu ada atau tidak). Salah satunya adalah, ketidakpastian diriku saat ini juga. Biasalah, umur segini sedang masa-masanya bingung menentukan arah. Kuliah tinggal setahun, masih belum jelas mau susun skripsi tentang apa. Sebenarnya ada banyak juga teman-temanku yang sangat hebat dalam menetapkan hati dan masa depan mereka. Dan aku sangat salut dengan mereka.

Padahal, kalau kamu coba ingat-ingat tentang Hana-yang-baru-menginjak-dewasa-di-sekitar-umur-17-tahun, dia jauh lebih hebat dari saat ini. Entah orang mau bicara dan tidak yakin, dia tetap ingin merantau dan kuliah di UI. Atau Hana-yang-berada-di-kelas-3-SMP yang berhasil keluar dari masa-masa kelamnya dan fokus untuk menempuh SMA negeri di Surabaya. Kedua Hana tersebut benar-benar menjadi bookmark yang baik bagi Hana 20 tahun ini.

Di sebuah pagi di hari Minggu ini, aku masih bingung harus kemana. Tentang arah tujuan, fokus, dan bayanganku tentangmu. Awalnya, banyak hal yang menjadi ide mengapa aku bingung. Mungkin kemampuan dan pengetahuanku yang masih minim, kurang percaya diri, tidak berada dalam lingkungan yang tepat, dan lain-lain.

Namun, pagi ini, sepertinya aku tahu alasannya. Aku hanya kurang bersungguh-sungguh. Belum memaksimalkan segala usaha yang bisa dikeliarkan. Masih terlalu malas untuk bergerak. Masih terlalu nyaman menolerir diri sendiri. Aku hanya kurang bersyukur.

Sepertinya, tugas seorang Hana (di umur berapapun itu) adalah bersungguh-sungguh. Sisanya adalah pemberianNya yang terbaik.

And those who strive for us – We will surely guide them to Our ways. And indeed, Allah is with the doers of good. QS 29:69

Semoga kamu bisa bahagia dan bermanfaat ya, di manapun itu, apapun kamu jadinya.

Tanpa lilin,

Hana-yang-berumur-kurang-lebih-20-tahun

#1Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Surabaya, 21 Januari 2014.

Dear Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun,

aku tidak tahu sebenarnya kamu ada atau tidak. Tapi jika kamu ternyata ada, aku ingin membantumu bahagia, dengan mengingat kenangan dan jejak kecil hidupmu yang sudah kamu habiskan di waktu mudamu.

Seminggu kemarin adalah awal tahun yang luar biasa. Aku dan beberapa teman-teman akhirnya merealisasikan rencana liburan kita: pergi ke Singapur. Masih ingat siapa saja mereka? Ada Luqman (yang mukanya kaya Arab, orang yang terlalu geek dan passionate dengan komputer), Anjar (paling bocah namun menjadi ketua DP, dewa), dan Ari (datuk asli, berhasil menjadi peserta workshop hari Kamis, orang paling menyebalkan). Hmm, karena mereka semua laki-laki, aku ke Singapur didampingi oleh Ibu the Super B Mom.

Liburan yang menyenangkan. First time-ku ke luar negeri, tidak jeleklah. Namun, yang membuat unik adalah rasanya bersahabat dengan 3 cowok itu. Menjadi cewek sendirian ternyata berbeda. Cowok-cowok itu terkadang bertindak super bocah. Sudah tahu kita harus cepat-cepat ke bandara, mereka malah berlama-lama di masjid, menonton orang akad nikah. Dasar para bocah kebelet nikah. Selain itu, menjadi cewek sendiri berarti menjadi bahan bullyan mereka. Terkadang mereka sok-sok menyebutku dengan panggilan ‘ratu’ yang sangat annoying. Dan mereka menjadi super heboh ketika tahu Ibu mendadani kukuku di Marina Bay. Apalagi ketika aku mejeng di kamera dengan gaya cewek, mereka menganggapku sok manis. Menyebalkan ya teman-teman masa mudamu?

Haha. Jangan terlalu kesal, begitu-begitu kamu harus ingat ketika mereka dengan ksatria menolong para wanita ini dengan membawa tas kita keliling Singapur. Atau ketika aku sedang terlalu lelah habis bersepeda di East Cost Park, mereka menunggui sepedaku, meminjamkan sandal, dan membawakan tas. Yang tidak diduga, mereka ternyata membelikanku sebuah to-do list note seharga SGD169. Unyu-unyu menyebalkan.

Ini ada sedikit bukti ceritaku:DSC03566

Begitulah kira-kira, cuplikan kehidupan masa mudamu di awal tahun 2014. Bagaimana kabar teman-temanmu itu sekarang? Masih bocah dan suka berebut mainan dengan anak-anaknya? Atau jangan-jangan mereka sudah tumbuh jadi lelaki super dewasa yang bersahaja? Haha. Well, sepertinya seorang Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun ini harus sering-sering aku kasih surat untuk menceritakan masa mudamu. Kadang hal-hal begini yang bisa membuatmu sedikit senang ketika uang belanja bulanan sudah menipis.

Dadah, orang yang belum tentu ada.

tanpa lilin,

Hana-yang-berumur-kurang-lebih-20-tahun