Rumah

Aku adalah rumah berwarna hijau yang terletak di pojokan jalan sebelah gang kecil. Jika penghuni rumah memberikan ancer-ancer kepada supir taxi atau tamu yang datang, dia cukup berkata, “Rumah pojok warna hijau.”

Tembok luasku, yang menghadap ke gang kecil, saat ini sudah penuh dengan cap bola dan bentuk lainnya dari tanah. Biasanya, banyak anak seumuran SD sampai SMA bermain bola di gang tersebut, hingga seringkali membentur diriku. Di sore hari, terkadang banyak bocah duduk bersender di tembokku. Mereka menikmati wifi gratis yang disediakan oleh penghuni rumah.

Ukuranku tidak besar dan megah, seukuran rumah rata-rata. Namun, puluhan orang tiap hari keluar masuk melewati pagar dan pintuku. Ada yang datang berharap mendapat rejeki, ada yang datang untuk berterima kasih, ada yang datang untuk bertemu teman lama, ada yang datang untuk sekedar memuaskan dahaga, ada yang datang untuk membantu orang lain.

Aku menerima semua orang. Tuan rumahku sangat menyayangi tamu. Tugasku adalah menjaga agar listrik tidak sampai turun ketika banyak orang menginap. Aku pun selalu berusaha memanggil angin untuk mampir agar aliran udara yang masuk bisa menyejukkan orang-orang di dalamku. Sebagai sebuah rumah, aku harus menjaga agar semua orang yang datang merasa nyaman.

***

Aku adalah rumah yang terletak di daerah pemukiman pemulung. Ukuranku hanya 1×2 meter terbuat dari bambu-bambu, mungkin kurang pantas jika aku mengakui diri sebagai rumah. Tetapi begitulah kondisinya, seorang nenek tua yang sudah buta menjadikan aku sebagai rumahnya, tempat baginya untuk duduk, tidur, dan menghabiskan hari-hari.

Depanku adalah sumur, sampingku rumah-rumah warga lain, dan di belakangku adalah tempat pemakaman umum. Seakan, masa depan terlihat begitu jelas di mataku dan sang nenek.

Sangking menyedihkannya kondisi kami, setiap orang luar yang bertamu, pasti akan ditunjukkan nasibku dan penghuniku. “Lihat ini, nenek yang hidup seorang diri, buta, dan hanya tinggal di tempat sekecil ini.” Sang pemandu berharap, kenestapaan kami bisa menyentuh hati orang-orang untuk membantu kami.

Meskipun bisa dibilang tidak layak, aku tetaplah sebuah rumah bagi si Nenek. Aku adalah tempat si Nenek berlindung dari hujan dan panas. Aku terus berusaha menjaga kekompakkan jalinan bambu-bambuku, agar aku bisa kuat menahan berat si Nenek yang tidak lebih dari 40 kilo. Setidaknya, aku harus bisa membuat Nenek tetap merasa aman di ruangan 1×2 meterku ini.

***

Aku adalah rumah yang terletak di daerah elit. Sebagaimana para tetanggaku, aku dijaga oleh dua orang yang satpam yang bekerja bergantian. Mereka memeriksa siapa saja tamu yang datang, apa keperluannya, dan ingin bertemu dengan siapa. Mereka adalah lapisan pertama penjagaan tuan rumahku.

Sebenarnya, tuan rumahku hanya ada satu orang. Dia adalah seorang wanita berusia 80an, istri seorang mantan menteri yang sudah meninggal. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing. Alhasil, aku dihuni oleh wanita tersebut, dua orang satpam, satu orang pekerja kebun, dan empat orang pekerja rumah tangga.

Hari raya adalah hari kesukaanku, ketika semua kerabat datang untuk bertemu dengan si wanita, meskipun keramaian hanya bertahan kurang dari satu minggu dalam satu tahun.

Sebagai sebuah rumah, aku sangat menyayangi penghuniku. Aku sering melihat wanita tersebut kesepian. Hari-hari ia jalani sendiri, dari bangun tidur, sarapan, mandi, keliling taman, dan membaca koran. Kuajak kupu-kupu untuk bermain ke tempatku, agar dia bisa menemani wanita itu bermain. Aku ingin wanita itu merasa bahwa dia tidak sendirian di dunia ini.

Advertisements

Tentang Gigi Geraham Belakang Yang Tumbuh Belakangan

Gigi geraham belakang akhirnya beranjak dari ranjangnya. Muncul perlahan setelah tidur selama belasan tahun.

Gigi geraham belakang melirik ke kiri dan ke kanan, melihat jajaran gigi seri, geraham, dan taring yang lebih dulu ada. Mereka terlihat sangat kokoh dan tegas. Gigi geraham belakang menjadi sedikit malu. Namun dia tahu bahwa dia harus bangkit. Dengan sangat pelan dia mencoba melihat dunia dari balik gusi. Ups! Gigi geraham belakang sedikit mengoyak nyonya gusi.

AAAWW!! Gigi geraham belakang sangat kaget mendengar teriakan keras dari tenggorokan. Tidak hanya sekali terjadi, semenjak dia mulai bangun, tenggorokan menjadi suka mengeluarkan suara kasar. Kadang lidah juga suka menjilati dan melumurinya dengan liur.

Gigi geraham belakang ingin segera merasakan melumat kunyahan makanan yang sudah dikoyak oleh gigi taring. Namun dia hanya melihat kunyahan makanan di seberang sana, tanpa mampir ke dirinya. Gigi geraham sebelahnya menjadi kurang suka dengannya. Kamu membuat kami tidak bisa melumat makanan, katanya.

Suatu hari, gigi seri bercerita bahwa akhir-akhir ini mereka menjadi sangat jarang bekerja. Sangat sedikit makanan yang masuk ke mulut. Jikapun masuk, hanya sebagian dari para gigi yang bekerja. Akhirnya banyak gigi yang jadi pengangguran. Kata gigi seri, ini semua gara-gara gigi geraham belakang yang tumbuh belakangan.

Gigi geraham belakang menjadi sedih. Dia merasa kedatangannya tidak disenangi oleh gigi yang lain. Namun gigi geraham belakang tahu, bahwa dia harus bangun dari tidurnya. Walaupun dia harus sedikit melukai nyonya gusi yang lembut. Serta membuat dirinya dibenci oleh seluruh gigi lainnya. Dan gigi geraham belakang tetap tumbuh, walaupun belakangan.

It was a story about us

It was a story about hatred.

The red country had a big hatred with green country. They were enemies for decades. For any resident caught wearing green shirt, they would end. For any books green covered, it would be burnt. ‘Kill anyone who loves green! Who wear green shirt and plant a greenery in the lawn, kill them!” Said the king of a red country.

In a library, there was a very nationalist man. He was gazing a book for hours. He wore glasses, rather old but not so bold. With his furrowed forehead, he was squatting to staring the book in the same position. The book was closed. It was stood on the table, with front-cover faced the man.

The other man came and saw the old man. He was younger, but not so young. He wore white t-shirt and red sneakers. He felt that the book-cover-gazing-activity irritated him. He came to the old man, asking what he did.

The old man said, he was praying and contemplating. In red country, contemplating your sins while gazing the red color (anything colored red) was counted praying.  Continue reading

Pergi Pesta

Terik. Siang itu mengeringkan bumi dan menggantinya dengan haus. Di antara kumpulan terik matahari dan angin panas, hanya hening yang mau bertemu dengan siang. Yang lain sibuk di dalam bangunan, menyalakan AC. Ada yang sambil bekerja, ada yang sambil tidur. Mereka sama-sama sibuk menanti siang untuk segera pergi. Kecuali dia yang di sudut sana. Bersama bayang-bayang pohon, dia berbaring dengan tenang.

Sapi namanya. Di antara hening siang hari, dia tidak butuh AC atau kipas untuk melindunginya dari terik. Di sekitarnya ada dedaunan dan rumput yang menjadi alas istana kecilnya. Matanya kadang tertutup, kadang terbuka lagi dengan sangat perlahan. Selain hening, dialah satu-satunya teman yang menerima siang apa adanya.
Setelah puas menemani dengan Sapi dan hening, siang pergi. Tak lama berselang, sore datang mengetuk bumi. Katanya, dia ingin bertemu dengan Sapi mumpung masih ada kesempatan. Sapi heran, bukankah setiap hari kita akan bertemu? Sore hanya menggeleng, “Mungkin sekarang yang terakhir.” Sapi masih belum mengerti, tapi dia tidak peduli. Sapi pun bermain dengan sore. Dia kadang berdiri mengitari pohon, memakan dedaunan, dan berbaring lagi. Beberapa anak kecil datang kepadanya memberi sayang. Mereka menawarkan daun-daun dan mengelusnya dengan tangan hitam kecil. Sapi senang, ternyata banyak yang menyayangi dia. Sudah cukup bermain, Sore kemudian pamit. Sapi sedih karena baru sekarang Sore bisa bermain sedekat ini dengannya, “Besok kita bermain lagi ya?” Sore hanya tersenyum kemudian pergi sambil mengucap salam.

Tamu selanjutnya adalah malam. Sapi tidak terlalu suka dengan malam. Ia suka memberikan dingin dan tidak banyak bicara. Ketika malam datang, ia suka mengusir para bocah dan tamu lain untuk pergi. Sapi jadi merasa sendiri. Namun saat itu, malam datang dengan lebih ramah. Ia membawa oleh-oleh berupa fotonya bersama bintang. Sapi senang karena dia melihat ada teman baru yang sangat indah. “Kapan-kapan aku harus ke rumah bintang,” tekad Sapi. Malam kemudian berkata, “Besok aku akan menemanimu ke sana.” Continue reading

Bintang, Patah Hati, dan Ayam Jetlag

Malam ini malam yang membuat ingat. Menampilkan sedikit cahaya dari bintang di sana, malam membuat saya balik ke masa lalu. Mungkinkah itu bintang yang berjarak 4 tahun cahaya? Bintang yang seharusnya hadir dulu, namun karena jauhnya dia baru bisa datang sekarang. Bintang yang terlambat itu berkata, “Maaf aku baru datang dari masa lalu. Aku akan memberi kamu sedikit ingat tentang apa yang aku rasakan bersamamu 4 tahun yang lalu.” Dalam remangnya, seakan bintang itu bercerita mengenai kehidupan lalu. Continue reading

#2 Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Dear Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun,

apa kabar? Sudah makan? Hmm rasanya aneh bertanya kabar kepada sesuatu yang belum tentu ada. Oya, aku penasaran sekali, sekarang kamu jadi apa? Sudah berapa anaknya? Apa pekerjaanmu sehari-hari? Nanti jangan lupa tulis kabar ya 😀

Anyway, ada beberapa alasan mengapa aku sangat penasaran dengan nasibmu saat ini (terlepas dari ketidakpastian apakah kamu ada atau tidak). Salah satunya adalah, ketidakpastian diriku saat ini juga. Biasalah, umur segini sedang masa-masanya bingung menentukan arah. Kuliah tinggal setahun, masih belum jelas mau susun skripsi tentang apa. Sebenarnya ada banyak juga teman-temanku yang sangat hebat dalam menetapkan hati dan masa depan mereka. Dan aku sangat salut dengan mereka.

Padahal, kalau kamu coba ingat-ingat tentang Hana-yang-baru-menginjak-dewasa-di-sekitar-umur-17-tahun, dia jauh lebih hebat dari saat ini. Entah orang mau bicara dan tidak yakin, dia tetap ingin merantau dan kuliah di UI. Atau Hana-yang-berada-di-kelas-3-SMP yang berhasil keluar dari masa-masa kelamnya dan fokus untuk menempuh SMA negeri di Surabaya. Kedua Hana tersebut benar-benar menjadi bookmark yang baik bagi Hana 20 tahun ini.

Di sebuah pagi di hari Minggu ini, aku masih bingung harus kemana. Tentang arah tujuan, fokus, dan bayanganku tentangmu. Awalnya, banyak hal yang menjadi ide mengapa aku bingung. Mungkin kemampuan dan pengetahuanku yang masih minim, kurang percaya diri, tidak berada dalam lingkungan yang tepat, dan lain-lain.

Namun, pagi ini, sepertinya aku tahu alasannya. Aku hanya kurang bersungguh-sungguh. Belum memaksimalkan segala usaha yang bisa dikeliarkan. Masih terlalu malas untuk bergerak. Masih terlalu nyaman menolerir diri sendiri. Aku hanya kurang bersyukur.

Sepertinya, tugas seorang Hana (di umur berapapun itu) adalah bersungguh-sungguh. Sisanya adalah pemberianNya yang terbaik.

And those who strive for us – We will surely guide them to Our ways. And indeed, Allah is with the doers of good. QS 29:69

Semoga kamu bisa bahagia dan bermanfaat ya, di manapun itu, apapun kamu jadinya.

Tanpa lilin,

Hana-yang-berumur-kurang-lebih-20-tahun

Ketika Sedang Galau

Kemarin (kemarinnya lagi) saya habis nonton film. Di film itu ada scene di mana Pak Polisi lagi latihan menembak pakai pistol. Dia pakai penutup telinga dan kacamata gaul. Ketika dia menembakkan pelurunya, boom. Ada hentakan ke belakang di pundaknya, ada serbuk mesiu di wajahnya. Super duper cool.

Kemudian saya jadi teringat salah satu hal yang saya suka lakukan ketika galau: membayangkan diri saya menembak dengan pistol beneran. Jadi ketika masa-masa Unas SMA, saya pernah merasa super hectic dengan berbagai try out dan pikiran-pikiran lain. Saat itu saya membuat daftar apa saja yang akan saya lakukan ketika galau melanda. Seperti menembak dengan pistol, naik kuda pacuan, main Yabusame, main barongsai, dll. Dan daftar itu masih saya gunakan sampai sekarang. Ketika galau saya suka membayangkan bebasnya ketika saya sedang duduk di punggung kuda sambil membungkukkan badan untuk mengurangi hambatan angin sambil memakai topi dan sepatu yang lucu. Fantasi favorit saya sampai saat ini adalah menembak dengan pistol beneran, disusul dengan naik kuda pacuan.

Selain berfantasi, saya juga senang mendengarkan lagu bertempo selo. Most favorite sampai saat ini adalah lagu True Colors sambil ikutan nyanyi bareng Phill Collins dan membayangkan saya sedang bernyanyi di depan kelas dengan penuh penghayatan. Haha :”)

Antara berfantasi dan mendengarkan lagu, dua-duanya sama-sama menjadi pelarian yang baik. Entah itu galau karena merasa gagal, kehilangan percaya diri, atau galau-galau anak muda lainnya. Namun most frequent galau adalah yang kedua. Anyway, ketika berfantasi, saya mendistribusikan kegalauan ke peluru yang baru saja saya tembakkan. Ketika mendengarkan lagu, saya memaklumi kegalauan itu dengan liriknya True Colors, “…oh I realize it’s hard to take courage, in the world full of people you can lose sight of it all..” Jadi saya bisa sedikit meringankan beban kegalauan ini ke peluru khayalan dan lirik itu. Namun efeknya tidak lama, hanya sementara. Ketika pelurunya sudah selesai menembus papan target, rasa bebas galau itu sudah selesai juga. Sedangkan lirik-lirik itu terlalu cupu untuk membawa terlalu banyak beban. Mereka adalah pelarian yang baik, namun bukan solusi yang baik.

Namun kemarin (kemarin, kemarinnya lagi) saya mencoba hal yang jarang dilakukan ketika galau: nangis. Saya suka bingung bagaimana bisa nangis ketika galau, karena saya biasa menangis ketika batuk, muntah,menguap, tertawa, kepedasan, dan konflik. Akhirnya ketika galau saya mencoba menangis, sambil mengadu dengan mewek (muka saya pasti super jelek saat itu) sambil sujud dan pakai mukenah. Well, ternyata lumayan oke. Saya bisa tidur dengan lebih tenang dan galaunya terangkat dan saya mendapatkan solusi dari kegalauan tersebut. Jadi, mewek sambil sujud sambil pakai mukenah dan menggantungkan diri hanya padaNya adalah solusi galau terbaik saat ini yang pernah saya coba.

image

#1Untuk Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun

Surabaya, 21 Januari 2014.

Dear Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun,

aku tidak tahu sebenarnya kamu ada atau tidak. Tapi jika kamu ternyata ada, aku ingin membantumu bahagia, dengan mengingat kenangan dan jejak kecil hidupmu yang sudah kamu habiskan di waktu mudamu.

Seminggu kemarin adalah awal tahun yang luar biasa. Aku dan beberapa teman-teman akhirnya merealisasikan rencana liburan kita: pergi ke Singapur. Masih ingat siapa saja mereka? Ada Luqman (yang mukanya kaya Arab, orang yang terlalu geek dan passionate dengan komputer), Anjar (paling bocah namun menjadi ketua DP, dewa), dan Ari (datuk asli, berhasil menjadi peserta workshop hari Kamis, orang paling menyebalkan). Hmm, karena mereka semua laki-laki, aku ke Singapur didampingi oleh Ibu the Super B Mom.

Liburan yang menyenangkan. First time-ku ke luar negeri, tidak jeleklah. Namun, yang membuat unik adalah rasanya bersahabat dengan 3 cowok itu. Menjadi cewek sendirian ternyata berbeda. Cowok-cowok itu terkadang bertindak super bocah. Sudah tahu kita harus cepat-cepat ke bandara, mereka malah berlama-lama di masjid, menonton orang akad nikah. Dasar para bocah kebelet nikah. Selain itu, menjadi cewek sendiri berarti menjadi bahan bullyan mereka. Terkadang mereka sok-sok menyebutku dengan panggilan ‘ratu’ yang sangat annoying. Dan mereka menjadi super heboh ketika tahu Ibu mendadani kukuku di Marina Bay. Apalagi ketika aku mejeng di kamera dengan gaya cewek, mereka menganggapku sok manis. Menyebalkan ya teman-teman masa mudamu?

Haha. Jangan terlalu kesal, begitu-begitu kamu harus ingat ketika mereka dengan ksatria menolong para wanita ini dengan membawa tas kita keliling Singapur. Atau ketika aku sedang terlalu lelah habis bersepeda di East Cost Park, mereka menunggui sepedaku, meminjamkan sandal, dan membawakan tas. Yang tidak diduga, mereka ternyata membelikanku sebuah to-do list note seharga SGD169. Unyu-unyu menyebalkan.

Ini ada sedikit bukti ceritaku:DSC03566

Begitulah kira-kira, cuplikan kehidupan masa mudamu di awal tahun 2014. Bagaimana kabar teman-temanmu itu sekarang? Masih bocah dan suka berebut mainan dengan anak-anaknya? Atau jangan-jangan mereka sudah tumbuh jadi lelaki super dewasa yang bersahaja? Haha. Well, sepertinya seorang Hana-yang-berumur-kurang-lebih-30-tahun ini harus sering-sering aku kasih surat untuk menceritakan masa mudamu. Kadang hal-hal begini yang bisa membuatmu sedikit senang ketika uang belanja bulanan sudah menipis.

Dadah, orang yang belum tentu ada.

tanpa lilin,

Hana-yang-berumur-kurang-lebih-20-tahun

The Marsenese

I know that somewhere, in a whatever galaxy, there is a planet called Mars.
I have not gone there, but I have met the Mars citizen, called Marsenese.
When I first met them, I once felt scared and vigilant with them. Because they were so strange with the glossy skin, odd gaze, and long antenna.

They were very simple and ignorant. They could only wear sandals and t-shirt to attend to the party held in my planet. They only spent 5 minutes to dress up to college (I get suspicious that they didn’t take a shower). Sometimes they were very ambitious. They can do everything and be focus to get what they want. They loved watching other Marsenese playing football until midnight and be noisy. They were really good in navigating and remembering the roadmap. They were expert in analyzing the situation but poor in feeling the emotion. Some of them loved to play music, and being a band member is one of their prestige.

But when I got closer to them, they were not that peculiar. They were outwardly not really different to me. We could watch thousand movies in a night, with a popcorn in our hands. We could share our lunch every day. We could listen to the same music together with shared earphone. What made our inter-planet-connection really meaningful is, we could share the story and laugh and tears even we came from different planet, with different time zone, and different language.

Getting much closer to them, I found another facts of our connection. We were not understanding each other that much. Many times we had different meaning and understanding. It was because we talked with different language. I think I have to install the super Google Translator in my brain when I talked to them. Sometimes we had different favorite movie characters. Sometimes we didn’t want to give our best meal. Sometimes we snatched each other to the playlist we had. And we often argued about unimportant things.

Maybe it is not that we can’t have a quality time together forever. All of the dislike, unmeaningful argument, and the misunderstanding between us happen because of….us. may be it because I can’t keep silence seeing their mess. May be they still want to play when I ask them to stop. May be they don’t like my stupidness in navigating. May be they can’t wait me to dress up. May be we can not accept each other.

May be we are not ready yet to understand each other.

Knowing the Marsenese is great, really. They are good and unique even we are basically different. However, it may not now to get closer to them. I have to learn much about the Mars and solar system to wisely accept the difference. I have to used to learn the navigation and football. I have to install the super translator to minimize the misunderstanding. More important, I have to understand my self first.

And when I get much smarter, I will be ready to come back and have a new talk with the new Marsenese. It is no matter whether he comes from Mars and I am from another planet. And when he coming up, I will say, “Let’s choose our own planet.”

Lagi-lagi Mimpi

Di minggu pertama kuliah, aku diberi kepercayaan untuk mengisi mentoring untuk anak-anak mahasiswa baru ini. Awalnya bingung, apa yang harus aku beri ke mereka? Apakah tentang landasan-landasan fiqh atau tentang hukum-hukum Islam? Sejujurnya aku masih takut kalau harus berbagi tentang hal itu. Bukan karena tidak menarik, namun aku masih sangat minim dan penuh tanda tanya tentang pengatahuan semacam itu. Akhirnya aku memutuskan untuk berbagi kepada mereka, tentang hal sederhana yang bahkan tidak perlu mentoring untuk mendapatkannya, tentang mimpi.

Lagi-lagi mimpi.

Aku bercerita kepada mereka tentang kehidupan di UI yang pernah aku temui. Aku beberkan kepada mereka, bahwa kampus kuning ini layaknya mini dunia yang menyediakan banyak hal dan kesempatan. Dari segi lingkungan, kampus ini mempunyai banyak pilihan mulai dari yang terkesan alim sampai disko. Begitu pula dengan kesempatannya, entah itu ranah pendidikan, kewirausahaan, politik, sosial, dan sebagainya. Banyak sekali. Bahkan terlalu banyak yang ditawarkan untuk diserap semua oleh anak kecil sepertiku, seperti mereka. Dan itu tidak hanya terjadi di kampus kuning ini. Dunia sana menawarkan lebih banyak hal, yang jauh lebih besar, yang jauh lebih ganas. Kalau UI itu lautan, samudera adalah tempat yang akan aku tuju apabila keluar dari sini. Bukan lagi ikan sarden 300 kg yang bisa ditemui, tapi hewan semacam paus biru raksasa yang akan menyapa. Bukan lagi hujan yang turun, tapi badai yang terlibat.

Di lautan yang super luas ini, aku ceritakan pada mereka, keyakinan-lah yang membuat kita terus berlayar. Keyakinan terhadapNya dan keyakinan terhadap diri sendiri. Salah satu tali terkuat yang menjaga layarku adalah, mimpi dan keyakinan diri sendiri. Aku kasih tau ke mereka, bermimpilah, tetapkan tujuanmu. Kamu tidak akan kemana-mana tanpa tujuan dan navigasi yang jelas. Kamu hanya terombang-ambing menunggu daratan tanpa bermimpi.

Berlayarlah di lautan super luas ini, dengan keyakinan dari dalam diri. Tanpa melihat kemana yang lain pergi, pergilah ke daratan yang kamu incar.

Tentukan parameter suksesmu, itu yang aku tekankan pada mereka. Ambil inspirasi sebanyak-banyaknya dari mereka yang telah mencapai tujuannya, atau yang sedang berusaha keras menuju ke tujuannya. Belajar banyak dari lingkungan ini dan serap, serap, serap. Kemudian tentukan, apa sukses menurutmu? Tanpa merasa minder, tanpa merasa tertekan. Biarkan saja apabila orang lain sudah melanglang buana ke seluruh dunia dan kamu masih terpaku di gedung ini. Biarkan saja orang lain mengoleksi berbagai macam piagam sedangkan kamu hanya mempunyai sertifikat sebagai peserta. Biarkan saja selama kamu tetap fokus mencapai tujuanmu. Biarkan saja asal kamu mengerti tujuanmu dan suksesmu. Seperti yang pernah diceritakan Rene Suhardono kepada saya, “Kamu adalah juri terbaik dalam hidupmu!” Bukan orang tua, teman, atau dosen yang menentukan kesuksesanmu, tapi kamu sendiri.  Karena kamu hidup dengan kaki yang berbeda dengan orang lain, karena kamu hidup di rumah yang berbeda. Karena tujuanmu, definisi suksesmu yang menentukan masa depanmu.

 Winners compare their achievements with their goals, while losers compare their achievements with those of other people. -Nido Qubein

Entah apa yang mereka tangkap dalam 15 menit singkat aku berbagi. Mungkin aku bisa dikatakan Dewi Mimpi karena sering menggembor-gemborkan tentang mimpi dan tujuan. Setidaknya sampai saat ini, aku belum mati karena mimpi.

 

Salam semangat untukku, mentee-menteeku, dan kamu. Selamat menuju daratan incaranmu.