Ilmu

Setiap malam sebelum tidur atau pagi selepas salat subuh, saya dan suami mempunyai rutinitas tausiyah. Setiap hari secara bergantian, saya dan suami saling memberikan tausiyah tentang perkara agama.

Alhamdulillah, rutinitas ini telah berjalan dengan cukup konsisten selama kami bersama di London. Kebiasaan ini menjadi salah satu fasilitas bagi kami untuk saling menasihati, menguatkan, dan mempelajari ilmu agama di tengah kesibukan mengurusi ilmu dunia. Biasanya saya membahas dari buku tafsir Ibnu Katsir jilid 9 dan suami membahas dari buku Rasulullah dan Science karangan Yusuf Qardhawi.

Di dalam bukunya, Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa sejatinya ilmu adalah landasan dari iman dan amal perbuatan manusia. Dalam Islam, ilmu bukanlah suatu hal yang bertentangan dan dihindari. Walaupun kita sebagai muslim harus mengimani Alquran, kita tidak dilarang untuk mencari bukti-bukti kebenaran untuk menambah iman, seperti yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim yang memohon ditunjukkan bukti kebesaran Allah. Sebaliknya, Alquran mendorong manusia untuk berpikir dan memahami agama ini secara menyeluruh dengan hati yang tunduk dan ilmu yang benar.

Menariknya, di buku tersebut dibahas bahwa ilmu yang sebenarnya akan menyeru pada keimanan dan sebagai petunjuk. Jadi, orang yang benar-benar berilmu maka akan semakin beriman dan tunduk pada Sang Khalik, seperti Nabi Sulaiman yang diberi ilmu untuk memindahkan istana Ratu Balqis secara instan. Dia tetap merasa bahwa ilmu dan kekuatan itu berasal dari Rabb-nya. Begitu juga dengan Dzulkarnain yang ketika berhasil meluaskan kekuasaan dari timur dan barat serta membangun infrastruktur yang megah, dengan rendah hati ia mengakui bahwa semua adalah rahmat-Nya.

Apapun topik dan bahasannya, ilmu yang diberkahi adalah yang sinkron dengan iman dan dipergunakan untuk kebaikan. Oleh karena itu, ayat pertama yang diturunkan Allah kepada rasulNya adalah perintah membaca. Dan membaca yang dimaksud di sini bukanlah sekedar membaca, tapi membaca yang didahului dengan bismillahirrahmanirrahim, atas nama Allah swt.

Landasan ilmu adalah mengenal Allah dan mengesakannya. Mengenal sifat-sifat-Nya dan kebesaran atas makhluk-makhluk-Nya adalah hasil dari menuntut ilmu. Ketika sudah mengenal-Nya, maka akan muncul rasa takut dan cinta sehingga menunjuk pada amalan soleh. Di sinilah letak kekuatan ilmu. Tanpa ilmu, manusia hanya akan beragama secara taklid dan beribadah membabi-buta tanpa ada pemahaman; atau sebaliknya, manusia akan menentang kebenaran yang ditunjukkan Alquran dan memberikan alasan atas perbuatan yang menuntut hawa nafsunya.

Kemudian saya sedikit memahami bahwa salah satu faktor besar di balik ketaatan luar biasa para sahabat adalah ilmu. Mereka hidup berdampingan dengan Rasulullah, sumber ilmu di dunia. Abdurrahman bin Auf tidak pikir panjang untuk menginfakkan sebagian besar keuntungannya di jalan Allah karena ia tau keutamaan bersedekah dan balasannya. Begitu juga dengan Mush’ab bin Umair yang tidak takut meninggalkan naungan kekayaan dari orang tuanya karena memilih menjadi muslim. Rasulullah menyatakan bahwa orang yang paling cerdas adalah yang paling sering mengingat mati dan mempersiapkannya. Hadist tersebut menunjukkan bahwa orang yang cerdas adalah yang tahu tujuan hidupnya serta mempersiapkannya. Tujuan dan pemahaman tentang kehidupan tidak akan bisa didapatkan tanpa adanya ilmu.

Topik bahasan ilmu menjadi sangat menarik bagi kami karena kami berdua sedang dalam masa studi. Hal ini mengingatkan kami untuk memahami hakikat ilmu yang kami pelajari. Jangan sampai, segala perjuangan yang kami lakukan demi menimba ilmu di sini tidak menjadikan kedudukan kami lebih tinggi di pandangan Allah. Ilmu biologi sintetis, digital marketing, dan semua ilmu yang kami dapat di sini semuanya adalah ilmu-Nya yang bisa menjadi petunjuk dan ladang amal dalam mencapai tujuan kehidupan.

Suami saya pernah mengungkapkan keinginannya atas keluarga kecil kami, “Cinta Allah, cinta rasul, cinta Quran,” ketika kami berdiskusi tentang masa depan. Kami ingin agar keluarga kami diberikan kekuataan untuk selalu berada dalam ketaatan dan perjuangan di jalan-Nya. Hal ini bisa dimiliki jika kami mempunyai ilmu yang menyeluruh tentang hakikat kehidupan ini.

Untuk melahirkan generasi yang seperti itu, kami tidak bisa menjadi keluarga yang mediocrity, terjebak dalam kehidupan rumah tangga asal-hidup-enak di dunia dan melupakan tujuan yang jauh lebih tinggi untuk keselamatan kami di akhirat. Oleh karena itu, berangkatlah kami untuk merantau jauh ke negeri Eropa untuk menuntut ilmu-Nya yang lebih luas dari langit dan bumi. Di sini kami membaca segala bukti kebesaran-Nya dan mengamalkan ilmu yang kami dapatkan sebagai modal untuk kehidupan kami kelak dan generasi yang akan datang.

“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwa Alquran itu benar dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS 22:54)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s