Rumah

Aku adalah rumah berwarna hijau yang terletak di pojokan jalan sebelah gang kecil. Jika penghuni rumah memberikan ancer-ancer kepada supir taxi atau tamu yang datang, dia cukup berkata, “Rumah pojok warna hijau.”

Tembok luasku, yang menghadap ke gang kecil, saat ini sudah penuh dengan cap bola dan bentuk lainnya dari tanah. Biasanya, banyak anak seumuran SD sampai SMA bermain bola di gang tersebut, hingga seringkali membentur diriku. Di sore hari, terkadang banyak bocah duduk bersender di tembokku. Mereka menikmati wifi gratis yang disediakan oleh penghuni rumah.

Ukuranku tidak besar dan megah, seukuran rumah rata-rata. Namun, puluhan orang tiap hari keluar masuk melewati pagar dan pintuku. Ada yang datang berharap mendapat rejeki, ada yang datang untuk berterima kasih, ada yang datang untuk bertemu teman lama, ada yang datang untuk sekedar memuaskan dahaga, ada yang datang untuk membantu orang lain.

Aku menerima semua orang. Tuan rumahku sangat menyayangi tamu. Tugasku adalah menjaga agar listrik tidak sampai turun ketika banyak orang menginap. Aku pun selalu berusaha memanggil angin untuk mampir agar aliran udara yang masuk bisa menyejukkan orang-orang di dalamku. Sebagai sebuah rumah, aku harus menjaga agar semua orang yang datang merasa nyaman.

***

Aku adalah rumah yang terletak di daerah pemukiman pemulung. Ukuranku hanya 1×2 meter terbuat dari bambu-bambu, mungkin kurang pantas jika aku mengakui diri sebagai rumah. Tetapi begitulah kondisinya, seorang nenek tua yang sudah buta menjadikan aku sebagai rumahnya, tempat baginya untuk duduk, tidur, dan menghabiskan hari-hari.

Depanku adalah sumur, sampingku rumah-rumah warga lain, dan di belakangku adalah tempat pemakaman umum. Seakan, masa depan terlihat begitu jelas di mataku dan sang nenek.

Sangking menyedihkannya kondisi kami, setiap orang luar yang bertamu, pasti akan ditunjukkan nasibku dan penghuniku. “Lihat ini, nenek yang hidup seorang diri, buta, dan hanya tinggal di tempat sekecil ini.” Sang pemandu berharap, kenestapaan kami bisa menyentuh hati orang-orang untuk membantu kami.

Meskipun bisa dibilang tidak layak, aku tetaplah sebuah rumah bagi si Nenek. Aku adalah tempat si Nenek berlindung dari hujan dan panas. Aku terus berusaha menjaga kekompakkan jalinan bambu-bambuku, agar aku bisa kuat menahan berat si Nenek yang tidak lebih dari 40 kilo. Setidaknya, aku harus bisa membuat Nenek tetap merasa aman di ruangan 1×2 meterku ini.

***

Aku adalah rumah yang terletak di daerah elit. Sebagaimana para tetanggaku, aku dijaga oleh dua orang yang satpam yang bekerja bergantian. Mereka memeriksa siapa saja tamu yang datang, apa keperluannya, dan ingin bertemu dengan siapa. Mereka adalah lapisan pertama penjagaan tuan rumahku.

Sebenarnya, tuan rumahku hanya ada satu orang. Dia adalah seorang wanita berusia 80an, istri seorang mantan menteri yang sudah meninggal. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing. Alhasil, aku dihuni oleh wanita tersebut, dua orang satpam, satu orang pekerja kebun, dan empat orang pekerja rumah tangga.

Hari raya adalah hari kesukaanku, ketika semua kerabat datang untuk bertemu dengan si wanita, meskipun keramaian hanya bertahan kurang dari satu minggu dalam satu tahun.

Sebagai sebuah rumah, aku sangat menyayangi penghuniku. Aku sering melihat wanita tersebut kesepian. Hari-hari ia jalani sendiri, dari bangun tidur, sarapan, mandi, keliling taman, dan membaca koran. Kuajak kupu-kupu untuk bermain ke tempatku, agar dia bisa menemani wanita itu bermain. Aku ingin wanita itu merasa bahwa dia tidak sendirian di dunia ini.

Advertisements

One thought on “Rumah

  1. halo Hana^^ boleh minta kontak kamu han ? aku udah baca beberapa tulisan kamu dan ada yang mau aku tanyakan ^^ kalau boleh aku minta nomor kamu ya han, kirim di email aku bellabpc18@gmail.com , thankyou hana ^^ Btw Happy New Year yaah ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s