Lesson Learned: Seleksi LPDP

Sejak kuliah, saya bercita-cita untuk S-2 di luar negeri, tepatnya di Eropa. Motivasi ini muncul ketika saya membaca buku tentang perjalanan seseorang ke Eropa, dan sejak saat itu saya berkomitmen harus pernah merasakan hidup di negara Eropa.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, saya mencari beasiswa untuk menunjang kuliah saya. Akhirnya saya memutuskan LPDP dan mengikuti seleksi pada bulan Januari 2016.

Pada bulan Maret, saya mendapat email dari lembaga pemberi dana beasiswa, LPDP, yang menyatakan bahwa saya tidak lolos seleksi. Banyak emosi berkecamuk di hati, banyak pikiran datang dan pergi. Namun, hidup terus berjalan. Tiga bulan setelahnya, saya kembali mendapat email dari LPDP yang menyatakan bahwa kali ini saya berhasil lolos seleksi. Kembali, banyak emosi dan pikiran berkecamuk, tapi kali ini hidup terasa lebih ringan.

Ketika mempersiapkan beasiswa untuk yang kedua kali, saya bertekad untuk menuliskan pengalaman dan lesson learned yang saya dapatkan lewat blog, apabila saya berhasil lolos. Alasannya sederhana, saya pernah gagal pertama kali, dan apabila saya lolos di seleksi kedua, maka ada perubahan signifikan yang mempengaruhi hasil dan itu akan bermanfaat jika dibagikan. Alhamdulillah, Allah memberikan saya kesempatan untuk melakukannya.

Mengapa saya gagal?

Saat itu akhir tahun 2015 ketika saya mengikuti seleksi LPDP pertama kali. Terus terang, saya belum ada gambaran yang jelas mengenai bentuk seleksinya. Saya mencoba untuk santai dan berharap semua berjalan baik-baik saja. Karena saat itu saya berpikir untuk ‘jalani saja apa adanya,’ maka semua esay, bahan wawancara, dan persiapan lainnya juga ‘apa adanya’. Semua berjalan biasa saja hingga akhirnya saya menjalani seleksi wawancara.

Ketika wawancara, 45 menit di ruang aula berjalan sangat tidak baik.

Rasa tidak enak dan frustasi setelah wawancara masih menggerayangi saya hingga di hari pengumuman. Sampai di hari H, saya sudah yakin 99% bahwa saya tidak lolos, dan memang saya tidak lolos. Badan langsung lemas, sekaligus lega karena akhirnya semua menjadi jelas. Beberapa saat setelah hasil keluar, saya memberi tahu orang-orang terdekat saya bahwa saya belum beruntung.

Di malam itu juga, perjuangan untuk mendapatkan beasiswa LPDP di putaran selanjutnya dimulai.

Hal yang paling menarik saat itu adalah bagaimana orang-orang terdekat saya memberikan respon. Seluruh keluarga dan orang terdekat satu suara menyatakan bahwa saya harus sabar. Namun, ibu saya tidak berhenti di kalimat “sabar, belum rejeki, tidak apa-apa.” Di malam itu juga, Ibu langsung mengajak saya untuk melakukan evaluasi apa saja yang salah dan harus diperbaiki saat seleksi lalu. Dia menelepon saya di malam hari, dan berdiskusi mengenai poin-poin kesalahan yang harus diperbaiki. Beliau mengirimkan artikel-artikel terkait LPDP yang bisa jadi bahan evaluasi saya.

Akhirnya, setelah melakukan evaluasi selama beberapa minggu, saya mendapatkan evaluasi:

1. Kurang mengenal diri sendiri

Ketika seleksi LPDP, saya kurang fokus untuk menyiapkan dan mengenal diri saya sendiri, terutama untuk rencana jangka panjang secara spesifik. Hasilnya adalah, seluruh output seleksi beasiswa (tiga tugas essay dan wawancara) saya tidak menjadi satu kesatuan yang baik. Masing-masing hanya sekedar menjadi syarat seleksi, tanpa ada satu ruh yang menyatukan. Pada akhirnya, ketika ditanya saat wawancara, jawabannya pun semrawut dan tidak fokus.

2. Kurangnya riset dan data yang disajikan

Sejujurnya, pada kesempatan pertama, saya tidak melakukan banyak pencarian terhadap bidang studi yang saya pilih dan bagaimana pilihan ini menjadi penting. Saya kurang maksimal ketika mencari bidang studi, kampus, dan negara. Saat itu saya memilih bidang studi Technology Entrepreneurship di UCL, London. Ketika saya ditanya mengapa harus di Inggris? Saya hanya menjawab bahwa London adalah kota startup ketiga paling besar di dunia. Ketika saya ditanya mengapa di UCL? Saya hanya menjawab bahwa bidang studi ini hanya ada di UCL (dan ini merupakan blunder mematikan).
Alhasil, saya langsung diserang dengan….
“Kenapa tidak ke Korea saja? Kan Korea sedang maju teknologinya”
“Kenapa tidak ke India saja? India sekarang leading di teknologi”
“Emang beneran tidak ada di manapun di dunia ini? Kamu sudah coba cari di Singapur? USA? Korea?”
dan berbagai pertanyaan lainnya.

Semua pertanyaan tersebut diberikan secara terus menerus kepada saya. Kemudian karena saya hanya riset dari halaman website universitas, saya hanya bisa menjawab dengan jawaban itu-itu saja yang malah menjadi blunder lagi untuk saya.

3. Penjelasan dan pemberian jawaban yang tidak meyakinkan

Saat itu saya memilih bidang studi Technology Entrepreneurship dan saya hanya menyatakan bahwa bidang studi ini penting karena sekarang era startup dan ilmu tentang ini akan berkembang di kemudian hari. Intinya, saya hanya mengambil satu aspek bahwa sekarang era startup dan belum ada ahli di bidang testing produk startup. Ternyata, jawaban ini memang sangat tidak memuaskan bagi mereka. Saya langsung ditanya: Kenapa harus S2? Kenapa kamu ga kerja di Gojek saja? Kenapa kamu ga menekuni pekerjaan kamu di startup Selasar saat ini?
Kelemahan saya adalah, saya hanya klaim sepihak bahwa bidang studi ini penting. Padahal, semua bidang studi bisa jadi penting untuk diimplementasikan di Indonesia. Masalahnya adalah, apakah ilmu ini penting dan mendesak? Untuk meyakinkan jawaban ini seharusnya saya banyak melakukan pencarian dan argumen penguat untuk mendukung alasan saya mengambil bidang studi ini.

4. Pilihan bidang yang bukan prioritas

Sebenarnya tidak masalah untuk memilih bidang studi prioritas 3 karena kita bisa mengaitkan pilihan bidang studi dengan pilihan topik prioritas LPDP. Sayangnya, saya hanya berkutat di pilihan bidang studi saja.

5. Kurang persiapan

Satu kesalahan saya paling besar adalah, tidak latihan wawancara. Padahal dengan latihan dengan orang lain, saya bisa tahu apakah jawaban ini mudah dimengerti atau tidak, serta bagaimana tanggapan orang awam terhadap pentingnya pilihan ini.
Kebodohan lainnya adalah, saya terlalu fokus untuk mempersiapkan hal-hal yang tidak esensial. Saat saya mencari tahu tentang wawancara LPDP, saya dapat banyak informasi bahwa ada permintaan-permintaan aneh dari pewawancara seperti menyebutkan Pancasila dalam bahasa Inggris, menyanyikan lagu daerah, dsb. Sayangnya, saya terlalu larut dengan hal-hal seperti itu.

6. Paradigma yang salah tentang LPDP
Saat mengikuti seleksi, saya berpandangan bahwa LPDP ini hanyalah lembaga pemberi dana cuma-cuma saja. Hal ini karena pada tahun-tahun sebelumnya, LPDP cukup banyak memberikan beasiswa kepada peserta hingga ada anggapan, asal kualifikasi standar pasti diterima. Akibatnya, saya hanya memberikan jawaban yang berfokus pada diri saya sendiri.

Dan Hidup Terus Berjalan

Setelah melakukan evaluasi-evaluasi, saya kemudian mengatur timeline untuk mengajukan beasiswa lagi. Sekitar bulan April, progress saya sangat sedikit karena alasan malas, trauma, dll. Apalagi ada kabar yang beredar bahwa LPDP mengurangi jatah luar negeri karena ingin menambah jatah dalam negeri. Terlebih, Inggris adalah salah satu negara yang dibatasi kuotanya karena sudah terlalu banyak yang ke sana. Hingga akhirnya waktu sudah tiba di bulan Mei dan saya memaksa diri saya untuk melakukan percepatan.

Setelah melakukan eksplorasi dan pendalaman, saya memutuskan untuk pindah ke bidang studi Digital Marketing di University of Southampton dengan fokus untuk pengembangan UKM. Poin-poin yang saya lakukan dalam persiapan seleksi kali ini adalah:

1. LPDP adalah investor

Pertama kali yang saya perbaiki adalah mindset beasiswa. Saya memperbarui pandangan saya bahwa LPDP selayaknya investor. Dia akan memberikan suntikan dana hingga 1 Milyar per tahun untuk awardeenya. Selayaknya investor, LPDP akan memberikan dana kepada orang-orang yang mempunyai peluang besar untuk memberikan keuntungan balik bagi LPDP, apalagi dengan investasi dana yang cukup besar. Keuntungan intangible yang diinginkan LPDP adalah potensi berkontribusi dan menjadi pemimpin yang baik di Indonesia. Dengan memiliki mindset ini, saya bisa mengetahui poin-poin prioritas yang perlu saya gali lebih dalam.

2. Penting?

Setelah memahami proses pemberian beasiswa dari kacamata pemberi dana, saya menakar apakah rencana S-2 saya adalah investasi yang bagus untuk Indonesia dan apakah ilmu dan diri saya bisa jadi suatu hal yang bermanfaat untuk sesama dalam jangka waktu dekat. Pada dasarnya, hampir semua ilmu penting dan akan bermanfaat untuk diterapkan di Indonesia. Namun pada kenyatannya, tidak semua ilmu bisa dan mendesak untuk diterapkan di Indonesia, entah karena masyarakat yang belum siap atau kondisi sebenarnya masih tidak memungkinkan, dsb.

Pada awalnya, sangat sulit untuk menjawab dan meyakinkan diri sendiri bahwa ilmu yang akan saya tekuni benar-benar penting untuk pelaku UKM Indonesia. Apalagi, mengingat kebanyakan UKM sudah bisa menggunakan Facebook, Instagram, dan e-commerce untuk keperluan dagang mereka. Kemudian, saya melakukan banyak pencarian di internet tentang UKM dan potensi digital marketing di Indonesia. Saya mendapatkan data tentang jumlah UKM dan kontribusi terhadap GDP, kondisi UKM yang sudah go digital, prioritas pemerintah pada UKM, dll.

Dari pencarian itu, saya menghubungkan berbagai informasi dan akhirnya menyimpulkan bahwa bidang studi ini penting melihat kondisi UKM saat ini yang berpotensi tinggi namun tidak optimal. Selain itu, hal ini juga sejalan dengan roadmap pemerintah.

Tujuan dari pencarian ini adalah mencari tahu apakah jalan yang ditempuh memang penting sesuai dengan kondisi saat ini, bukan berdasarkan asumsi semata. Oleh karena itu, sangat penting untuk tahu dengan detil bagaimana yang terjadi di masayarakat sekarang dan potensi di masa depan.

Setelah mendapatkan kondisi saat ini, saya bisa mengambil pilihan sub bidang yang kira-kira paling cocok untuk diimplementasikan. Pemilihan sub bidang menjadi penting karena akan menentukan fokus studi dan riset kita di kuliah selanjutnya.

3. Serba-serbi kampus

Setelah mengetahui latar belakang dan kondisi di masyarakat Indonesia, pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana jalan paling efektif untuk menyelesaikan masalah yang ada? Berhubung saya berada dalam konteks LPDP, apakah perlu menempuh S-2/S-3? Jika ya, kampus mana yang terbaik dan mengapa? Negara mana yang terbaik?
Sebisa mungkin, adakan perbandingan satu kampus dengan kampus lainnya. Walaupun tidak ada yang sama persis bidang studinya, coba cari yang mirip. Kemudian bandingkan kampus-kampus tersebut dengan melihat kurikulum, dosen-dosen, dan spesialisasinya. Selain itu, perhatikan juga negara tujuan, apakah negara tersebut menunjang perkembangan ilmu tersebut?

4. Mau Kemana?

Tidak hanya poin tentang kampus dan pilihan bidang studi, rencana ke depan setelah menyelesaikan studi juga menjadi sangat penting untuk dipersiapkan. Investasi dana 1 M dari pemberi beasiswa akan berjalan tidak optimal apabila tidak ada perencanaan yang matang.

Rencana ke depan mencakup apa yang akan dikerjakan, di mana akan bekerja, serta bagaimana berkontribusi dengan ilmu yang sudah dimiliki setelah lulus kuliah. Menentukan rencana setelah kuliah sebisa mungkin spesifik dengan nama rencana tempat bekerja, sehingga bisa lebih meyakinkan karena sudah ada basisnya. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan mengenai prospek karir bidang studi tersebut di Indonesia, di sektor mana saja ilmu itu diperlukan, dan bagaimana memberikan manfaat bagi masyarakat melalui jalur yang ditempuh.

5. Tuhan yang Menentukan

Pada akhirnya, memang Tuhan yang menentukan. Usaha lain yang tidak kalah penting yang saya lakukan adalah memohon doa restu dari suami dan orang tua. Alhamdulillah, setelah dipastikan beberapa kali, suami dan orang tua saya sangat mendukung langkah yang saya ambil. Selain itu, bersama dengan keluarga, kami berbagi rejeki dengan orang-orang yang membutuhkan serta meminta doa dari mereka.

Pelajaran penting yang ingin saya bagi adalah: dukungan orang terdekat dan sedekah merupakan senjata yang cukup ampuh untuk mendorong doa-doa kita.

***
Pada bulan Agustus di Surabaya, alhamdulillah semua berjalan lancar. Atmosfer di ruang wawancara jauh lebih damai dibandingkan dengan situasi sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara kebanyakan berfokus pada rencana studi, rencana hidup, dan kepribadian diri. Pada intinya, LPDP adalah investor yang sedang mencari lahan investasi menjanjikan yang bisa memberikan keuntungan bagi Indonesia.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

One thought on “Lesson Learned: Seleksi LPDP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s