Perbandingan Jam Kerja dan Keluarga: Perspektif Perempuan Seperti Hana

Kemarin saya baru saja pulang dari suatu acara di Kemang. Saat itu, mobil yang saya dan tiga orang lainnya naiki sedang terdiam di depan rumah karena sang pemilik mobil sedang mampir untuk buang hajat. Ketika mobil berhenti, ada seorang teman di jok belakang membahas pendapat seorang artis relijius tentang perempuan. Dia mempertanyakan mengenai peran domestik para wanita yang bekerja. “Berapa jam waktu yang kamu luangkan untuk suami dan anakmu? Apabila kamu bekerja 8 jam, waktu tidur 6 jam, waktu ngurus anak sekian jam, terus berapa jam waktu untuk suamimu?” Dia pun melanjutkan dengan premis-premis yang menghubungkan jam terbang di pekerjaan dengan prioritas perempuan terhadap keluarganya.

Saat itu saya langsung tergelitik untuk berpikir. Namun karena si teman itu sedang berbicara dengan teman satu lagi, dan kondisi saya sedang tidak terlalu mood, maka saya enggan mengungkapkan pendapat saya. Oleh karenanya, saya mencoba menuangkannya di sini.

Sebenarnya tidak hanya sekali saya mendengar celetukan atau himbauan bagi wanita untuk lebih memperhatikan rumah dengan perbandingan jam kerja dan jam domestik. Di twitter, jarkom Whatsapp atau lain-lain juga sering ada celetukan, “Ketika waktu di kantor lebih banyak dibanding waktu di rumah, namanya wanita karir atau ibu?”

Saya secara sadar dan tulus menyetujui bahwa urusan domestik harus lebih diprioritaskan dibanding pekerjaan dan karir. Bagi saya, bekerja dan menuai pengalaman adalah sarana untuk meningkatkan kualitas keluarga. Untuk substansi ini saya sepakat.

Namun, seketika saya mendengar obrolan teman saya di belakang mobil itu, saya merasa ada yang kurang dari argumen tersebut. Teman saya mempertanyakan prioritas keluarga-karir pada wanita pekerja dengan membandingkan jumlah jam di kedua belah pihak. Dia merasa, dengan menghabiskan jam lebih banyak di pekerjaan maka seorang wanita kurang memprioritaskan urusan keluarga. Pada bagian inilah, saya merasa kurang setuju karena:
1. Pemuka pendapat terlalu menyempitkan kesimpulan dan hubungan kausalitas dengan hanya mempertimbangkan variabel waktu atau jumlah jam.
2. Pemuka pendapat belum memastikan apakah meningkat dan menurunnya jam kerja langsung berbanding terbalik dengan prioritas urusan keluarga.

Setiap poin akan saya coba jelaskan satu per satu.

Sebelumnya, saya ingin mendefinisikan scope dari  karir atau pekerjaan di tulisan ini. Saya membatasi karir dan bekerja sebagai aktivitas perempuan di luar urusan domestik dan keluarganya. Jadi yang saya maksud karir atau bekerja tidak terbatas pada pekerjaan kantoran atau pengusaha, tapi juga termasuk menjadi seorang aktivis sosial, pengajar, penulis, santri penghapal Quran, dll.

Dari pernyataan teman saya yang mengutip pendapat artis reliji tersebut, saya menangkap bahwa prioritas karir-keluarga ditentukan oleh variabel perbandingan waktu antara keduanya. Dia menyebutkan waktu yang dihabiskan untuk bekerja adalah 8 jam, kemudian tersisa sedikit waktu untuk keluarga. Dengan melihat perbandingan tersebut kemudian prioritas wanita terhadap keluarga perlu dipertanyakan. Bagi saya, pembatasan variabel (perbandingan waktu) ini bisa menghasilkan kesimpulan yang terlalu sempit.

Saya mencoba berpikir dengan meluaskan jarak pandang. Saya mencoba melihat konsep jam terbang tidak hanya pada titik itu saja, melainkan investasi masa depan. Bagaimana jika waktu yang dihabiskan untuk bekerja dijadikan investasi untuk membuat keluarga yang lebih berkualitas? Selain jam terbang, saya coba memasukkan variabel benefit yang didapat. Ketika wanita memutuskan untuk bekerja, pasti ada iming-iming benefit yang akan didapat, entah itu sarana pengembangan diri, uang, atau pengalaman. Benefit yang didapat ini juga seharusnya masuk menjadi salah satu variabel. Di samping itu, cost yang dikeluarkan ketika bekerja juga harus menjadi dasar pertimbangan. Contohnya adalah, berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk anak dan suami, kelelahan, atau fokus pekerjaan yang mungkin terngiang-ngiang.

Sebagai contoh, Ibu saya adalah seorang wiraswasta. Beliau merintis bisnis ketika saya dan adik saya di SD. Saat itu, ibu saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari supplier, berhubungan dengan pembeli, pengurusan legal, dsb. Perjuangan dalam perintisan bisnis mengharuskan ibu saya untuk lebih banyak bekerja di depan komputer dan bertemu orang dibanding menemani saya dan adik saya belajar. Berkurangnya waktu intens dan fokus untuk keluarga adalah cost yang dikeluarkan oleh ibu saya. Namun, cost tersebut bisa diatasi karena anaknya sudah bisa mandiri dan suaminya sudah memberikan izin dan dukungan sepenuhnya.

Pada akhirnya, pengorbanan ini memberikan benefit yang lebih banyak dan menjadi investasi di masa depan. Tidak lama setelahnya, ibu saya bisa meluangkan waktu jauh lebih banyak untuk keluarga. Akibat pengorbanan waktu beliau pun, banyak sekali pengalaman hidup dan pelajaran berharga diberikan kepada anak-anaknya.

Berdasarkan cerita tentang ibu saya di atas, ada beberapa variabel yang menjadi dasar keputusan berkarir:
1. usia anak: saat itu saya dan adik saya sudah SD, yang artinya sudah lepas dari masa golden age dan lebih bisa dibiarkan mandiri
2. investasi waktu: banyaknya waktu yang dihabiskan saat merintis bisnis akan kembali dalam bentuk luangnya waktu untuk lebih bisa mengurus keluarga di kemudian hari.
3. kapital yang didapat
4. lesson learned: pengalaman berkarir menjadikan ibu saya kaya akan pelajaran yang dapat diberikan ke anak-anaknya

Membahas poin pertama, saya mengajukan ke pemuka pendapat bahwa ada baiknya mempertimbangkan variabel lain sebelum menilai prioritas seseorang.

Kemudian pada poin kedua, saya mempertanyakan hubungan kausalitas antara jumlah jam terbang di kantor dengan ignorance wanita di keluarga. Apakah semakin banyak waktu di kantor akan berbanding terbalik dengan hubungan seorang wanita dengan keluarganya?

Bagi saya pribadi, waktu kantor dengan kualitas keluarga tidak memiliki hubungan kausalitas yang linier. Maksudnya, semakin banyak waktu yang dihabiskan di kantor, maka semakin ignorance dia dengan keluarganya. Sebaliknya, semakin sedikit waktu yang dihabiskan untuk berkarir, semakin peduli dan berkualitas keluarganya.

Menurut pendapat saya, hubungan waktu karir atau pengembangan diri dengan kualitas dia di rumah tangga dapat ditunjukkan dengan fungsi kuadrat terbalik. Sampai dengan waktu ke-n, maka akan berlaku hukum perbandingan lurus antara waktu karir dengan kualitas keluarga. Artinya, semakin besar waktu yang dihabiskan untuk pengembangan diri maka semakin besar pula kontribusi dia untuk keluarganya. Tentu saja, perempuan yang tidak pernah baca buku dan berita sama sekali akan mempunyai pola dan dampak pengurusan keluarga yang berbeda dengan perempuan yang aktif mengembangkan dirinya.

Tetapi dalam fungsi kuadrat ada titik kulminasi atau titik puncak. Ketika waktu yang dihabiskan sudah lebih dari n, maka waktu karir dia akan berbanding terbalik dengan urusan keluarga. Artinya, ketika seorang perempuan sudah menghabiskan waktu lebih dari sekian jam untuk bekerja, maka semakin kecil prioritas yang dia berikan pada keluarganya.

comparison

Sebagai contoh, waktu maksimal saya untuk bekerja dan mengembangkan diri di luar rumah adalah 7 jam. Ketika saya hanya menghabiskan 3 jam untuk bekerja, maka saya memberikan value yang tidak optimal kepada keluarga saya. Namun sebaliknya, ketika saya menghabiskan waktu 10 jam bekerja, maka waktu tersebut sudah tidak efektif-efisien lagi untuk memberikan value kepada keluarga. Saya selalu kecapaian ketika bertemu suami atau anak saya jadi kurang dekat dengan ibunya.

Nah, penentuan titik kulminasi atau optimal dalam bekerja ini berbeda-beda bagi setiap wanita, berdasarkan variabel-variabel yang ditemukan di poin pertama.

Oleh karena itu, di poin kedua saya menyarankan kepada pemuka pendapat untuk memperluas perspektif dengan melihat secara holistik. Dalam hidup ini, tidak semua hal bisa dirumuskan dalam bentuk jika-maka linier.

Cerita tentang ibu saya adalah contoh baik dalam mengoptimalkan potensi. Ada contoh lain dari seorang perempuan mantan dekan di Princeton University dan satu-satunya wanita di dewan perwakilan  (saya pernah membaca cerita ini yang diberikan oleh Daya, tapi link-nya hilang…). Pada usianya yang sudah 40-50an, dia memutuskan untuk berhenti dari segala karirnya sebagai politikus dan akademisi. Alasan dia untuk mundur adalah keluarga. Dia merasa dengan karirnya yang sudah baik, urusan keluarga dan anaknya menjadi terdegradasi secara signifikan. Pada akhirnya, di akhir artikel disimpulkan bahwa seorang perempuan tidak bisa mempunyai karir yang powerful dan keluarga yang baik dalam satu waktu.

Contoh di atas adalah representasi dari prioritas yang tidak seimbang. Bisa jadi, ketika dia sedang ngebut berkarir di politik dan akademisi, dia sudah melewati titik kulminasinya. Artinya, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk karirnya, semakin sedikit value yang dia berikan pada keluarganya. Dalam kata lain, cost yang dia keluarkan untuk bekerja sudah lebih banyak dibanding benefit yang dia dapat untuk keluarganya.

Secara keseluruhan, saya mengerti maksud baik pemuka pendapat mengenai jam terbang wanita karir tersebut. Saya pun setuju dengan prioritas keluarga yang harus lebih diutamakan dari prioritas karir. Namun, saya rasa prioritas tersebut tidak bisa diukur hanya dari satu variabel jam terbang saat itu. Ada banyak variabel yang bisa menentukan batas waktu atau titik kulminasi wanita bekerja. Dengan melihat sistem prioritas secara menyeluruh, saya harap semua perempuan bisa mengoptimalkan waktu untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya yang kemudian menjadi modal untuk membangun keluarga berkualitas.

Begitulah kira-kira perbandingan jam kerja dan keluarga bagi wanita, dari perspektif perempuan yang…..suka merasionalkan dan memodelkan beberapa hal. Pendapat yang saya berikan masih dalam konsep yang sangat sederhana dan belum komprehensif (since I have not experienced those at all!). Apabila ada yang mempunyai pandangan yang lebih menyeluruh, silahkan ajukan 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Perbandingan Jam Kerja dan Keluarga: Perspektif Perempuan Seperti Hana

  1. Menarik, Kak!
    Entah aku yang skip baca atau gimana, tapi kayaknya belum ada konsiderasi yang bersifat sebagai “cost”. Maksudnya, hal-hal yang mungkin saja hilang saat perempuan memutuskan untuk mengejar karir. Kalo yang hana sebutkan kan hanya benefit aja: kapital, lesson learned, dll.

    Menurut kaka gimana? 🙂

    • Makasih Nidz komentarnya!
      Iya sih aku kurang mendetilkan cost-nya ya haha. Setuju, cost juga masuk ke variabel untuk memutuskan bekerja/tidak bekerja.

      Kalau di poin pertama, aku menyebutkan contoh variabelnya adalah usia anak, investasi waktu, kapital, dan lesson learned. Kalau kapital dan lesson learned in syaa Allah pasti dapet lah ya untuk semua karir dan pekerjaan, walaupun dengan ukuran berbeda-beda. Nah untuk variabel usia anak dan investasi waktu ini yang melibatkan cost lebih banyak. Soalnya, tidak seluruh waktu anak bisa ditinggal bekerja oleh orang tuanya, makanya perempuan harus melihat usia berapa si anak bisa ditinggal mandiri. Begitu juga untuk investasi waktu, tidak semua pekerjaan bisa menjadi investasi waktu di masa depan. Ada juga pekerjaan yang semakin lama, waktu yang dihabiskan bahkan semakin banyak. Waktu yang dikorbankan kan namanya cost. Apalagi kalau dia gabisa jadi investasi di masa depan, artinya cost-nya lebih banyak.

      Sebenarnya secara tidak langsung aku juga memasukkan cost pada poin kedua. Ketika sudah melewati titik kulminasi, artinya cost yang dikeluarkan untuk bekerja lebih banyak dibanding benefit yang didapat. Kalau contoh yang aku sebutkan, Saya selalu kecapaian ketika bertemu suami atau anak saya jadi kurang dekat dengan ibunya. Itu ada di paragraf ke-5 dari bawah.

      But thank you, I’ll revise and try to make it clearer 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s