#HatiHatiBidah, #WanitaKarirVsIbu, dan #PindahKerja

Beberapa waktu terakhir, saya menemukan fenomena menarik di jagad internet. Yang pertama adalah isu Bid’ah dan isu halal-haram yang mengundang kontroversi. Yang kedua adalah tweet Ustad Felix Siauw tentang ‘Wanita Karir vs Ibu’ yang juga menuai pro-kontra. Tidak sedikit yang merasa tersinggung dan kemudian membuat argumen balasan.

Fenomena seperti ini saya jumpai juga di cerita teman saya yang sudah nyemplung di dunia kerja. Dia merasakan adanya perubahan kurang baik setelah bekerja karena lingkungan yang tidak mendukung. Kemudian dia curhat mengenai perubahan ini ke salah satu sahabatnya yang anak LDF. Sayangnya, dia malah merasa disalahkan karena si anak LDF menyatakan bahwa dia berada di tempat yang salah dan harus pindah. Alih-alih terinspirasi untuk mencari lingkungan baru, dia malah merasa tersinggung dan semakin membuat pembelaan terhadap perubahannya saat ini.

Dari peristiwa-peristiwa di atas, saya melihat adanya inkoherensi. Masalah tentang Bid’ah dan hukum syariat itu penting dan perlu diperhatikan karena sangat mempengaruhi diterima atau tidaknya amalan kita. Mereka yang mencoba menghimbau #HatiHatiBidah saya rasa pasti punya niat baik dalam mengingatkan. Namun, kenapa respon yang didapat adalah penolakan? Begitu pula dengan kisah #WanitaKarirVsIbu-nya Felix Siauw. Beliau adalah ustadz yang in syaa Allah punya pemahaman dan ilmu, yang jika berpendapat pasti ada dasarnya tidak asal bunyi saja. Namun, kenapa banyak yang kemudian memberikan respon kurang positif? Atau dalam kasus #PindahKerja, si anak LDF pasti berniat baik dalam menyarankan mencari lingkungan baru. Namun, kenapa si anak kerja malah merasa tersinggung?

Teori Disonansi Kognitif

Penelitian Benjamin Edelman (peneliti dari Harvard Business School) tentang perilaku konsumsi pornografi di Amerika memberikan suatu penjelasan menarik dari pertanyaan saya di atas. Benjamin menemukan fakta bahwa 8 dari 10 konsumsi pornografi terbesar di Amerika adalah wilayah red state, yakni wilayah relijius Amerika. Padahal, di reds tate ada lebih banyak himbauan moral anti pornografi, sehingga (seharusnya) angka konsumsi pornografi lebih rendah dibanding di blue state.

Matthew Rabin dalam tulisannya mencoba menjawab fenomena tersebut dengan teori Disonansi Kognitif. Disonansi kognitif adalah rasa tidak nyaman yang dimiliki individu ketika dia memiliki dua keyakinan yang bertentangan. Sebagai contoh, seorang perokok pasti menikmati rasanya merokok. Di sisi lain, dia tahu bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan dan diasosiasikan dengan perilaku tidak baik oleh masyarakat. Di sini, dia mengalami disonansi kognitif antara kenikmatan merokok dan risikonya. Oleh karena itu, dia berusaha memaksimalkan kenyamanan merokok dengan mencari pembenaran dan pembelaan masyarakat terhadap apa yang dilakukannya. Dia akan berpendapat bahwa tanpa merokok dia tidak bisa berpikir jernih. Selain itu, semakin kuatnya himbauan moral untuk berhenti merokok, dia akan semakin gencar mencari teman untuk setuju bahwa merokok tidak seburuk itu. Dalam kasus pornografi Amerika, menariknya, Matthew Rabin menemukan titik equilibrium adalah ketika masyarakat semakin toleran dengan pornografi yang justru meningkatkan pornografi itu sendiri. Penjelasan lebih detil dan menarik silahkan dibaca di artikel ini.

Disonansi Kognitif ini saya rasa juga terjadi pada tiga peristiwa #HatiHatiBidah, #WanitaKarirVsIbu, dan #PindahKerja di atas. Saya yakin bahwa Ustad Felix Siauw bermaksud mengingatkan pada kaum wanita tentang tugas utamanya menjadi Ibu. Artinya, walaupun bekerja, jangan lupa memprioritaskan peran dia sebagai ibu bagi anak-anaknya. Namun, dengan format yang beliau sampaikan, muncullah disonansi kognitif yang kurang baik di masyarakat. Saya mewawancarai salah seorang karyawan wanita, setelah melihat tweet Ustad, alih-alih ‘terinspirasi’ untuk memprioritaskan diri sebagai ibu, dia membuat pembelaan pada diri sendiri, “perbandingan antara wanita karir dan ibu tidak apple to apple.” Atau ada wanita karir lain yang bilang, “Jadi wanita karir itu bisa mendukung saya jadi ibu yang baik juga.” Seperti hasil riset Rabin tentang pornografi, himbauan Ustad Felix ini juga menghasilkan ketidaknyamanan yang membuat para target ‘mencari teman’ untuk menguatkan posisinya. Contohnya ada yang membuat note di Facebook yang isinya tanggapan untuk tweet Si Ustad. Terlepas dari benar atau salah-nya Ibu dan Wanita Karir, saya pribadi menyimpulkan bahwa strategi penyampaian Ustad Felix tidak efektif dan tidak efisien.

Ada di Mana Salahnya?

Sistem bekerja dan berpikir pada dasarnya terdiri dari tiga hal: input, proses, output. Termasuk cara kerja untuk menghimbau kebaikan dan cara pikir untuk menerima himbauan tersebut. Ketika sebuah sistem dengan input yang baik menghasilkan output yang tidak efektif dan efisien, maka ada sesuatu yang salah di prosesnya.

Saya mencoba membuat asumsi bahwa inputnya benar, berarti apa yang disampaikan tentang Bid’ah dan wanita karir adalah sesuatu yang baik. Saya juga membuat batasan pembahasan artikel ini pada proses di bagian penyampaian, terlepas dari kesalahan penerima atau ketentuan Allah memberikan petunjuk.

Dari penjelasan tentang disonansi kognitif dari Rabin, bisa dibilang bahwa himbauan moral terhadap pornografi malah mempunyai andil dalam peningkatan konsumsi pornografi. Pun ketika melihat pola fenomena #HatiHatiBidah, #WanitaKarirVsIbu, dan #PindahKerja, bisa jadi ada ‘masalah’ di proses penghimbauan atau penyampaiannya. Cara menghimbau, menyuarakan, dan menyampaikan yang dilakukan mendorong disonansi kognitif dari penerima pesan dan memunculkan reaksi sebaliknya. Masalah ini sangat sederhana, namun mempunyai risiko yang cukup besar, yakni:

  1. penerima akan salah paham menerima pesan sehingga proses komunikasi gagal
  2. penerima akan memberikan respon berdasarkan pesan yang ia tangkap (yang bisa jadi salah paham). Mulai dari tiik ini, diskusi menjadi tidak efektif lagi karena mbulet di pembahasan yang bukan topik utama, tapi sudah melenceng.
  3. penerima akan membuat gaya penolakan akibat merasa ‘disalahkan’ karena salah menerima pesan
  4. perpecahan.
  5. pesan tidak sampai, keluar tenaga dan waktu untuk selisih paham.

Kemudian pada titik ini, kita bisa mengambil rumusan masalah:
1. Apa yang membuat proses penghimbauan tidak efektif/efisien?
2. Bagaimana caranya membuat proses tersebut menjadi efektif/efisien?

Analisis

Allah sudah menegaskan bahwa tugas manusia adalah mengingatkan saja. Masalah petunjuk dan hidayah itu hak perogratif Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Walaupun begitu, Rasulullah terus berdakwah dengan sebaik-baiknya alih alih hanya sekedarnya saja. Pun seharusnya dengan manusia lain yang ingin mencontoh beliau.

Agar tidak menganalisis seenaknya dengan asumsi dan rasa sok tahu, saya mencoba riset dengan mencari bahan analisis. Karena yang saya bahas adalah masalah syariat agama, saya mencoba mencari jawaban dengan berpegang pada dasar hukum umat Muslim: Alquran dan Hadist. Kemudian saya mencari pembahasannya di Yufid dan buku. Dengan kemampuang dan modal yang sangaaaatttttt terbatas, saya mencoba mencari hikmah dan solusi yang sudah disediakan oleh-Nya.

Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya mencoba mengutip dari Surat Ali Imron ayat 159: “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.”

Di surat An-nahl ayat 16, Allah berfirman, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” Penjelasan hikmah di footnote Alquran keluaran Depag menuturkan bahwa hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Allah menyuruh kita untuk menyeru manusia ke jalan yang tegas dan benar dengan pengajaran yang baik.

Hal yang sama juga bisa dilihat dari kisah Rasulullah saw dan Arab Baduy. Ketika ada seorang Arab Baduy yang buang air kecil di masjid, para sahabat berniat untuk menghentikan dan menegur si Baduy tersebut. Namun Rasulullah saw menahan sahabat-sahabat beliau dan membirkan si Baduy menyelesaikan hajatnya. Setelah selesai, Rasulullah meminta para sahabat untuk menyiram dan membersihkan tempat buang hajat tadi dan beliau kemudian menasihati si Baduy dengan lemah lembut.

Jika dilihat dari ayat dan hadist di atas, saya melihat bahwa bersikap keras dan berhati kasar menjadi salah satu faktor yang menyebabkan proses himbauan dan penyampaian menjadi tidak efektif dan efisien. Sedangkan, unsur kebijaksanaan sangat penting dalam proses penyampaian kebaikan. Kebijaksanaan yang saya maksud adalah gabungan dari tiga sifat: benar, baik, dan indah. Sebagai contoh adalah kisah Rasulullah dengan Arab Baduy. Beliau menahan sahabat untuk menegur saat itu juga karena hal itu tidak baik, walaupun benar. Di waktu yang tepat, ketika si Baduy selesai menunaikan hajatnya, baru beliau membersihkan najisnya kemudian mengingatkan dengan cara yang baik. Apa jadinya kalau Si Baduy langsung ditegur dengan kasar saat dia menunaikan hajat? Bisa jadi dia malah dongkol dan membuat pembelaan “Loh kan saya buang air di halaman masjid bukan di masjidnya.”

Menariknya, di hadist-hadist lain tergambarkan bagaimana cara Rasulullah menasihati sahabat lain tergantung target marketnya. Rasulullah memberikan empati pada setiap umatnya dan menasihati dengan ketegasan dan kelembutan yang proporsional sesuai keadaan dan tingkat keimanan targetnya.

Jadi?

Semua pasti setuju bahwa hidup di dunia mempunyai batasan-batasan. Kita ingin melakukan dan mencapai banyak hal, termasuk berdakwah, namun ada keterbatasan waktu, energi, ilmu, dll. Semuanya begitu. Yang cerdas adalah orang yang mampu meraih tujuan dengan menimalisasi risiko dan mengoptimalkan resource. Ini yang disebut dengan efektif dan efisien. Dalam kasus ini, efektif adalah keadaan target berhasil mendapatkan pesan dengan benar dan efisien adalah tidak adanya cost yang dikeluarkan akibat munculnya gelombang penolakan.

Untuk meraih efektivitas dan efisiensi, kita sudah diberi prosedur oleh Allah swt dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Allah dan Rasulullah kemudian menjelaskan mengenai do’s and dont’s yang seharusnya diikuti. Jangan sampai, karena lupa prosedur, kita asal menyampaikan yang….ujug ujug malah menghadirkan reaksi sebaliknya seperti kasus pornografi di wilayah red state Amerika.

Balik ke  pembahasan mengenai #HatiHatiBidah, #WanitaKarirVsIbu, dan #PindahKerja, saya yakin di dalamnya ada masalah komunikasi. Kontroversi dan penolakan yang terjadi tidak jauh dari kesalahpahaman akibat pengirim yang tidak baik mengirim pesan atau penerima yang tidak baik menerima pesan. Menurut saya, akan sangat disayangkan apabila diskusi esensial dan sehat malah tergerus dengan konflik sederhana hanya karena masalah komunikasi. Oleh karena itu, lebih baik menimalisasi risiko kesalahan komunikasi (dalam artikel ini yang dibahas adalah dari pihak pengirim) agar pesan yang diterima benar dan respon yang diberikan bisa lebih membangun.

Advertisements

6 thoughts on “#HatiHatiBidah, #WanitaKarirVsIbu, dan #PindahKerja

  1. great writing, Han!
    Anw, gw juga memerhatikan bahwa, tweet Ust Felix yang menyebar luas itu hanya satu dari serangkai tweet yang saling sambung menyambung. Menariknya, masyarakat kita juga punya sifat “langsung berapi-api” setelah membaca satu tweet ketimbang terlebih dahulu membaca keseluruhan isi tweetnya. Well, kita sebagai penerima pesan juga harus terus menerus melakukan introspeksi agar terhindar dari sifat defensif berlebihan, supaya hidayah dan kebaikan yang sampai ke kita bisa kita cerna dengan baik. Semoga Allah selalu bersama kita ya, Han. Aaamiin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s