Energi Cinta Bawang Merah dan Bawang Putih

Bawang Putih dan Bawang Merah, mereka seakan ditakdirkan untuk berada dalam dimensi ruang dan waktu bersama-sama. Di pasar-pasar, di teras rumah yang berubah menjadi warung ketika pagi, pun di supermarket besar, mereka berada berdampingan. Bahkan kadang tergabung dalam satu kertas bekas skripsi yang dieratkan oleh karet atau jaring-jaring plastik dari supermarket.

Di mana pun, kapanpun, di mana ada bawang merah, di sana ada bawang putih. Pun sebaliknya.

Dua ibu-ibu dalam perjalanan dari pasar menuju rumah mengobrol seru tentang dua sejoli bertetangga yang akan menikah. Katanya, tresno jalaran soko kulino.

Pepatah Jawa itu sepertinya tidak hanya berlaku pada dua sejoli yang bertetangga. Bawang Merah dan Bawang Putih, dalam konteks kehidupan relatif, mereka sudah memenuhi syarat kulino untuk menjalin tresno.

Ramainya pasar, baunya tas kresek, pengapnya kotak penyimpanan, dinginnya kulkas, hingga panasnya penggorengan, rasanya tak sekalipun menjadi pengalaman buruk dalam hidup mereka. Asal si Putih ada Merah, asal si Merah punya si Putih. Asal bersama, mereka merasakan sebuah bahagia. Bahagia yang walaupun masih tersimpan dalam siung-siung terdalam.

Seandainya ini adalah cerita mitologi Yunani, dewa Cupid atau yang di Latin disebut Amor pasti sudah menembakkan panahnya pada siung merah dan siung putih. Datanglah tresno tersebut pada kedua bumbu dapur merah dan putih. Satu sama lain. Saling bercerita, saling menerima.

Merah dan Putih. Mereka terlampau bangga dengan dua warna yang menjadi representasi tresno mereka. Tresno yang semakin harinya semakin besar dan berambisi. Tresno yang terus tumbuh dalam kecepatan tak terhingga hingga menghasilkan energi tak terbatas. Tresno yang seakan mustahil untuk hilang.

***
Suatu hari Bawang Merah mengeluarkan gas yang sangat menusuk. Gas sulfur yang bereaksi lebih kuat pada mata manusia. Ibu Pemasak sampai berkali-kali mengambil tisu dan menghapus air mata. Tak diduganya, sebenarnya Bawang Merah sedang dirundung amarah.

Rasa tresno Bawang Merah sudah mencapai titik di mana rasa kepemilikan mempengaruhi emosinya. Dilihatnya Bawang Putih ada di telenan bersama Bawang Bombay, seakan dunia ini terasa begitu sempit untuk satu siung seperti dirinya.

*****
Energi yang terlalu besar mempunyai dampak yang besar pula. Itulah yang membuat Einstein mendorong Franklin D. Roosevelt untuk segera menghentikan The Manhattan Project. Namun sayangnya, teori yang ia temukan menuntun pada jatuhnya Little Boy dan Fatman di Jepang. Dan dunia pun berubah.

*****
Begitu pula dengen energi tresno yang dimiliki oleh dua siung bawang di dapur.

Bawang Merah ingin Bawang Putih hanya berada di sampingnya. Dalam satu kotak bumbu, satu telenan, satu penggorengan. Tak boleh Bawang Putih dengan si Bombay, Cabai, atau Tempe. Keinginan yang menjadi ambisi.

Bawang Putih sangat berharap Bawang Merah mau melewatkan penawaran Ibu Pemasak untuk memasak nasi goreng. Hanya agar dia tidak ditinggal di dalam kotak. Namun ia hanya bisa mengusut sedih hingga mengkerut ketika melihat Ibu memasak nasi goreng hanya dengan si Bawang Merah.

Begitu terus sampai besok, tahun depan, hingga berdekade.

Hingga mereka sampai pada titik kulminasi energi. Energi tarik menarik mereka berubah menjadi dorongan yang menolak satu sama lain. Entah dalam bentuk sedih atau amarah.

Tresno mereka bukan lagi indah. Ia sudah berubah menjadi variabel destruktif yang semakin besar tiap satu siang dan satu malam. Bawang Merah sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan sulfur akibat amarahnya yang menjadi mudah tersulut. Bawang Putih sudah mengisut di pojokan kulkas berhari-hari karena sedih yang sering ia rasakan. Bukan menjadi bahagia, tresno mereka menggerus rasa dan orisinalitas mereka.

Mereka memutuskan untuk berpisah.

Bawang Merah adalah bumbu dapur yang sangat sedap. Bawang Putih mampu memberikan kegurihan dalam aromanya yang khas. Namun, dua bumbu dapur terbaik tidak harus dalam satu wajan untuk menghasilkan masakan terenak. Mereka tersadarkan bahwa panah cupid tidak cukup menjadi syarat terjalinnya rasa sedap dalam tiap ruas tiap siungnya.

Mereka saat ini harus berupaya untuk mengubah bentuk tresno di antara keduanya dalam bentuk lain. Berdasarkan hukum kekekalan energi, tresno itu akan selalu ada menggerogoti ruas mereka jika dibiarkan saja. Perlahan, si Bawang Putih dan si Bawang Merah masing-masing mengurainya, membiarkan ia mencari identitas barunya bak Neutrino yang memilih posisi nyamannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s