Pil Obat dan Poligami

DSC04522

Bagaimana sikap kamu terhadap poligami?
Saya tidak menyukai poligami seperti saya tidak menyukai obat

***

Saya orang yang tidak bisa menelan pil obat bulat-bulat. Dengan air, dengan buah, dengan nasi. Ujung-ujungnya saya terbatuk-batuk karena keselek dan pil obat masih berada di bawah lidah.

Karena ketidaksanggpuan tersebut, sebisa mungkin saya menghindari konsumsi obat. Jika sakit demam, saya mengandalkan istirahat cukup, makan sop hangat, dan banyak minum air putih. Apabila sudah parah, saya membeli obat Bodrexin, tablet hisap untuk anak-anak, dan mengonsumsinya 3 butir.

Ketika harus ke dokter atau membeli vitamin di apotek, saya cenderung membeli tablet hisap atau obat cair. Se_apes-apes_nya saya membeli obat puyer. Intinya, mengonsumsi obat yang berbentuk pil atau kapsul adalah opsi terakhir.

Sayangnya, kadang hanya ada opsi terakhir dalam sebuah pilihan. Dulu saya pernah dicurigai terkena demam berdarah atau tipes oleh dokter. Dia kemudian memberikan resep obat kepada saya. Obat yang dianjurkan ada beberapa macam, salah satunya berbentuk pil. Saat itu kondisi saya cukup mengkhawatirkan, sehingga rasanya terlalu ‘sok’ kalau menolak mengonsumsi obat tersebut hanya karena dia bernasib sebagai pil. Akhirnya, mau tidak mau saya minum pil tersebut.

Selama seminggu saya harus menghabiskan rangkaian 12 pil obat tersebut, dua kali sehari. Setiap pagi saya meletakkan pil berwarna putih di atas sendok dan menggerusnya dengan sendok lain. Saya campurkan dia dengan madu yang menenggelami permukaan sendok. Klimaks terjadi ketika saya menyuapkan sesendok campuran obat dan madu ke mulut. Semanis dan sebanyak apapun madu yang diberikan, tidak akan mampu menghapus rasa pahit obat. Pil yang tidak tergerus sempurna tersebut berubah menjadi serpihan yang menyempil di antara gigi dan meratakan lidah dengan rasa pahitnya. Rasa ingin memuntahkan kembali serpihan-serpihan tersebut membuncah dalam sekian detik prosesi meminum obat. Namun, semakin saya menolak dan membenci serpihan-serpihan yang terlanjur ada dalam mulut saya, semakin sulit proses yang saya lewati. Saya harus rileks dan ikhlas agar epligotis saya mau membukakan pintu dan membiarkan serpihan-serpihan tersebut masuk ke kerongkongan.

Prosesi meminum pil dua kali sehari merupakan hal yang cukup sakral bagi saya. Sakral karena saya harus mau berdamai dengan ketidaksukaan dan ketidaksanggupan saya. Saya harus mau menerima pil obat mengobrak-abrik mulut saya dan mengacak-acak saliva.

Bagaimana rasanya? Pahit. Saya mendadak merasa menjadi seorang _masochist_ ketika melewatinya masa-masa itu.

Meski demikian, pahit adalah konsekuensi yang harus saya terima untuk mendapatkan efek baik dari obat. Sebesar apapun rasa tidak suka dan tidak bisa saya terhadap obat, dalam kondisi tertentu saya harus mengalahkan ego untuk bisa mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, untuk bisa menjadi orang yang lebih sehat.

***

Seperti obat dengan rasa pahitnya, begitulah pandangan saya mengenai poligami. Saya tidak suka, saya akan melihat pilihan lain terlebih dahulu. Namun, baik obat maupun poligami, bukanlah hal buruk yang secara saklek harus dihindari dengan menutup mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s