Kenapa Perempuan Merasa Spesial?

Saya mendapat tantangan dari Daya, menulis seminggu dua kali. Sebenarnya saya yang memintanya untuk jadi pemecut agar saya konsisten menulis dengan memberikan satu tema tertentu. Tema yang dia berikan kali ini adalah perempuan. Awalnya, saya merasa senang dan mudah mendapatkan tema tersebut. Saya merasa ini adalah tema yang mudah karena dekat dengan saya, ada banyak bahan inspirasi, ada banyak pertanyaan saya tentang perempuan, dan banyak hal dari perempuan yang bisa dikupas.

Dan hari ini datang. Saya kebingungan.

Kebingungan saya bermula dari sebuah pertanyaan: kenapa perempuan terasa spesial? Saya mencoba mengamati sekitar. Di organisasi rohis kampus, ada divisi khusus perempuan, namun tidak ada satu divisi yang khusus membahas laki-laki. Di rak buku saya ada buku Fiqh Wanita, namun saya tidak mendapatkan referensi buku ketika googling Fiqh Laki-laki. Di pemerintahan, ada kementerian pemberdayan perempuan, namun tidak ada pemberdayaan laki-laki.

Kemudian, kenapa perempuan terasa/merasa spesial?

Dulu saya pernah menanyakan hal itu ke senior saya yang super akhwat. Katanya, karena perempuan memegang peran khusus untuk melahirkan dan mendidik generasi. Barusan saya mengonfirmasi ke beberapa teman perempuan saya mengenai spesialisasi perempuan. Mereka yakin dan percaya bahwa perempuan memang spesial. Menurut mereka, adanya aturan yang lebih kompleks pada perempuan menunjukkan betapa spesialnya perempuan. Perempuan mempunyai aturan yang lebih ketat dalam bepergian dibanding laki-laki. Perempuan mempunyai siklus bulanan haid dan nifas ketika habis melahirkan. Dan lain-lain.

Awalnya saya setuju.

Namun, saya merasa ada semacam bias dalam logika berpikir seperti ini. Jika perempuan merasa spesial karena mempunyai lebih banyak aturan dalam bepergian, bukankah laki-laki juga merasa spesial karena tidak diberi banyak aturan? Jika perempuan merasa spesial karena tiap bulan bertemu haid, bukankah laki-laki juga merasa spesial karena bisa sholat sepanjang waktu? Jika perempuan merasa spesial karena bisa melahirkan anak, bukankah laki-laki juga merasa spesial karena menjadi pemimpin rumah tangga?

Kemudian, kenapa perempuan terasa/merasa spesial?

Saya setuju dengan kesetaraan gender. Dalam hal ini, saya percaya bahwa masing-masing gender punya peran dan tanggung jawabnya; yang mana tidak ada yang lebih penting atau lebih tinggi.

Sayangnya, lingkungan saya masih menggunakan pola pikir yang berbeda. Banyak yang menganggap bahwa laki-laki superior dibanding perempuan atau memegang tanggung jawab yang lebih penting. Laki-laki memang diwajibkan untuk mencari nafkah dan berperang, sedangkan perempuan diwajibkan menjaga rumah dan patuh pada suami. Entah kenapa, peran laki-laki lebih terlihat secara fisik dan mempunyai efek yang langsung terlihat. Lagi-lagi sayangnya, hal tersebut malah membuat frame bahwa laki-laki mempunyai peran lebih penting daripada perempuan yang diwajibkan patuh pada suaminya.

Tentunya, menjadi sesuatu yang lebih rendah di mata sosial merupakan hal yang tidak menyenangkan. Perempuan merasa inferior dengan status dan pandangan masyarakat terhadap dirinya. Namun dia juga harus menerima kodrat dan nasibnya sebagai perempuan. Di sini munculah disonansi kognitif. Dalam rangka menyatukan dua hal yang bertentangan tersebut (menjadi inferior karena pandangan masyarakat dan menerima kodrat), muncullah pembelaan bahwa perempuan itu tidak lemah, namun spesial.

Perempuan spesial karena Tuhan berikan aturan penjagaan yang sempurna agar perempuan aman. Perempuan spesial karena dengan taat pada Allah dan suaminya, maka dia bisa masuk surga. Perempuan spesial karena bisa mendapatkan pahala yang setara dengan orang berperang ketika dia menjaga rumahnya dengan baik. Intinya, perempuan spesial karena berbeda, dengan laki-laki, dengan masyarakat, untuk berdamai dengan pandangan masyarakat.

***

Di dunia ini hanya ada dua gender: laki-laki dan perempuan. Ketika hanya ada dua jenis, apa konsekuensinya? Jika perempuan memang adalah makhluk yang spesial dan unik, maka laki-laki pun termasuk makhluk yang spesial dan unik relatif terhadap perempuan. Tidak mungkin ada satu jenis yang lebih spesial dan unik karena keduanya saling relatif.

Sekian.

PS : itu hanya analisis saya saja, berdasarkan data yang kurang komprehensif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s