Telepon Surga dan Mereka yang Kasihan

Beberapa waktu lalu saya baru saja menyelesaikan buku Mitch Albom berjudul The First Phone Call From Heaven. Terlihat dari judulnya, buku ini berkisah tentang suatu daerah rural (seperti pedesaan) yang mendapat ‘keajaiban’ berupa telepon dari surga. Bermula dari wilayah Coldwater, suatu daerah yang relatif sepi dan jauh dari daerah urban, seorang wanita tiba-tiba mendapatkan telepon yang mengaku dari ibunya yang sudah meninggal.

Ternyata, tidak hanya dia yang mengalami telepon ajaib tersebut. Ada sekitar 5-7 orang lain yang ternyata mendapatkan dering telepon setelahnya. Alhasil, setelah diliput media, Coldwater yang awalnya daerah tenang menjadi banjir pendatang. Orang-orang religius dari berbagai gereja rela mendirikan tenda di depan rumah penerima keajaiban agar bisa berdoa bersama. Orang-orang yang menginginkan kolega atau keluargnya yang sudah mati untuk kembali, berbondong-bondong mencari keajaiban di Coldwater.

Cover Buku (sumber: books.google.com)

Cover Buku (sumber: books.google.com)

Dari segi penulisannya, saya sangat terpikat dengan gaya Mitch Albom. Dia berhasil mengelaborasi kisah yang cukup ‘abot’ dengan kata-kata yang sederhana. Struktur penulisannya juga cukup elegan dan berkualitas. Saya merasa banyak belajar bahasa inggris lewat karya Mitch Albom ini.

Melalui kisah dalam buku ini, saya mendapati kesamaan cerita dengan kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah fenomena aneh terjadi, apa yang dilakukan oleh orang-orang? Dalam kasus Coldwater, setelah fenomena telepon dari surga menyebar, ada 6 jenis golongan manusia berdasarkan reaksinya:

  1. Penerima telepon. Dalam buku ini adalah para penerima telepon yang menceritakan pengalamannya mendapatkan telepon dari surga. Ada 5 tokoh ‘beruntung’ yang mendapatkan telepon dari orang tercinta yang sudah meninggal. Di telepon itu, para ‘arwah’ meminta penerima untuk menyampaikan fenomena ini seluas-luasnya.
  2. Pembangun tenda. Ketika sudah tersebar berita mengenai fenomena Coldwater, banyak orang yang langsung percaya dan termakan emosi. Mereka langsung terpengaruh dan merasa para penerima telepon adalah orang yang ‘didewakan.’ Orang-orang tersebut kemudian membangun tenda di depan rumah para penerima telepon, berharap agar mereka terkena semprotan keajaiban.
  3. Pencari kebenaran. Dalam buku ini ada seorang tokoh bernama Sully yang merasa terganggu dengan maraknya fenomena Coldwater ini. Gara-gara sering diberitakan mengenai kejaiaban telepon dari surga, anak Sully  jadi berharap mendapat telepon dari ibunya yang sudah meninggal. Merasa anaknya terbodohi, Sully berusaha mencari tahu fakta di balik fenomena ini.
  4. Pastor yang hati-hati. Ada seorang penerima telepon yang mengadukan fenomena ini ke gereja rumahnya. Awalnya pastor di gereja tersebut menerima fenomena ini. Kemudian lama-lama pastor ini merasa ada yang salah dengan kehebohan di Coldwater. Sang pastor kemudian tidak banyak ikut campur dan berusaha berhati-hati agar tidak ikut pusaran kehebohan itu.
  5. Pencari keuntungan. Di cerita ini disebutkan ada sherif, pengusaha telepon, dan media yang memanfaatkan fenomena ini untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka mencoba memikirkan bagaimana agar bisa membuat fenomena ini sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan sebesarnya.
  6. orang yang tidak peduli.

Dari 6 jenis masyarakat tersebut, siapakah yang paling rugi?

Berdasarkan kisah Mitch Albom, orang jenis kedua lah yang menjadi pihak paling dirugikan. Mereka langsung percaya dengan adanya fenomena tersebut. Alih-alih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka menelan bulat-bulat berita yang seliweran terjadi. Alhasil mereka langsung mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membuat tenda di depan rumah penerima telepon. Walaupun harus bertahan dingin-dingin di halaman luar, mereka tetap bertahan menanti keajaiban menular pada mereka.

Yang menjadi kerugian bagi mereka adalah ketika fakta terkuak di akhir cerita. Bukannya mendapatkan ‘keajaiban’, orang-orang yang langsung percaya tersebut malah tidak mendapatkan apa-apa.

***

Menurut saya, hal ini tidak hanya terjadi pada fenomena ‘telepon surga’ di Coldwater. Di Indonesia, sering terjadi fenomena atau isu hangat yang kemudian di-blow-up oleh media, terlebih masalah politik. Isu-isu panas tersebut biasanya langsung menimbulkan reaksi masyarakat yang cukup viral, seperti pemblokiran situs Islam, sikap Ahok terhadap miras, kelalaian Jokowi dalam kebijakan uang muka mobil pemerintah, anti terorisme ISIS, dll.

Sayangnya, tidak sedikit dari kita orang yang mudah percaya dan terprovokasi tanpa melakukan klarifikasi. Banyak sekali kejadian yang menjadi bahan yang bisa dikomersilkan oleh orang golongan ke-5 dengan memanfaatkan naivete golongan ke-2, seperti pemblokiran situs Islam, sikap Ahok terhadap miras, kelalaian Jokowi dalam kebijakan uang muka mobil pemerintah, anti terorisme ISIS, dll.

Saya sering menjumpai komentar di media sosial dan internet yang diberikan tanpa data yang valid, penelusuran yang dalam, serta covering both sides. Saya rasa, mustahil kita mendapatkan kesimpulan dan melakukan tindakan yang benar apabila data yang kita punya tidak komprehensif.  Terlebih sejak pemilu 2014, saya sangat heran menjumpai ada orang-orang  yang percaya bahwa apa pun yang dilakukan Jokowi pasti benar atau pasti salah.

Menguti kata Shofwan Albanna:

“JIL atau Anti-JIL? Fans PKS atau PKS-haters? Pro-Jokowi atau Anti-Jokowi? Perilakunya sering mirip-mirip: konsepsi kita yang sudah ada sebelumnya kemudian menjadi dasar untuk memilih informasi dan memperkuat keyakinan bahwa kitalah yang benar dan kelompok yang kita benci itulah yang salah. Tak heran broadcast yang tidak jelas sumbernya dan kutipan cuitan di twitter menjadi sangat populer

Ketika saya sudah menyelesaikan cerita tersebut, saya cukup kaget mengetahui ending-nya. Kemudian saya mencoba mengingat golongan orang-orang berdasarkan reaksi mereka terhadap fenomena ‘telepon dari surga’ tersebut.

Maukah kita rela membangun tenda untuk keajaiban yang belum tentu ada?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s