Tempat Kita Sejenak Berpikir

Beberapa waktu terakhir ini saya cukup dilibatkan dalam kondisi saudara saya yang sedang sakit. Beliau adalah Pakde saya dari Ibu. Dia sudah sakit selama beberapa tahun belakangan. Minggu lalu dia tetiba ambruk dan dilarikan ke ICU.

Saya pun berkunjung dan menjenguk Pakde saya di rumah sakit. Sebelumnya, saya kurang familiar dengan rumah sakit. Saya alhamdulillah termasuk tipe orang yang sehat, tidak biasa sakit. Saya lemah terhadap kendaraan dan obat-obatan. Namun saya sangat jarang ambruk dan mengidap penyakit yang lebih parah dari Vertigo.

Ketika saya menjenguk Pakde saya, saya melihat banyak hal di sana. Ada ibu-ibu dengan kursi roda dan wajah pucatnya menggedong bayinya yang akan dimasukkan ke ruang NICU (semacam ruang ICU khusus untuk bayi). Ketika saya melongok lewat jendela ke ruang NICU, saya melihat banyak tabung bayi yang disinari lampu warna putih kebiruan.

Saat saya masuk ke ruangan Pakde, saya juga menemukan suasana yang cukup melankolis dan mencengangkan. Seseorang dalam posisi tidak sadar, di mulutnya dimasuki banyak selang untuk bernapas dan begini begitu. Sebuah monitor dipasang di sana sambil menunjukkan angka kelayakan otot paru-parunya agar bisa lepas dari alat-alat itu dan pergi dari ruangan. Penunggu dari hari ke hari selalu melihat angka yang tertera tanpa pastinya. Hari ini membaik dari 15 menuju 16. Besoknya turun kembali di 12.

Tidak jauh dari ranjang Pakde, saya melihat ada ruang isolasi. Isinya ada seorang perempuan kurus berbaring menghadap tembok. Kasihan dia sendirian dalam ruang isolasi. Dari tempat saya berdiri saat itu juga terdengar suara batuk dan hebohnya suara riak yang dipaksa untuk keluar. Tidak tahu seperti apa kondisi pemilik riak dan batuk itu karena ditutupi oleh kain oranye.

Yang membuat dunia di sana menjadi sangat berbeda adalah sebuah hening. Saya tidak merasakan hiruk pikuk seperti di Gg Kober yang selalu dihiasi dengan lengkingan ‘Pempeeeeek’ dari abang yang lewat. Atau suara ngobrol orang-orang seperti di warung lele terdekat. Di sana hanya hening, berbisik-bisik melantunkan namaNya.

Di sana dunia seakan berjalan lebih lambat. Hari-hari terasa lama. Lagi-lagi suara langkah suster yang mengganti infus. Lagi-lagi angka di monitor yang tidak jadi naik. Perempuan di ruang isolasi itu berbaring ke kanan, hingga capek dan sekarang menghadap ke kiri. Seorang pasien yang tidak juga membuka mata. Lantunan ayat Alquran dari speaker rumah sakit. Tamu-tamu datang memberi doa. Dua jam kemudian satpam patroli datang dan memberi tahu tutupnya jam besuk. Semuanya ada di rutinitas dalam keheningan.

Di sana waktu seakan mengikuti irama sang sakit sehingga berjalan sedikit lebih lama. Seperti ada medan gravitasi khusus sehingga melambatkan perjalanan waktu. Yang memberi ruang dan cukup waktu bagi manusia untuk sejenak berpikir. Tentang dunia yang 1 harinya adalah 1000 tahun di bumi.

PS: silahkan nikmati sebagian tulisan saya di http://inihana.ghoster.io/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s