Mungkin Nasib Kebenaran Saat Ini

Saat ini di ujung sana, sebuah entitas bernama Kebenaran mungkin sedang kewalahan. Bingung memikirkan bagaimana membuat orang percaya bahwa dia adalah kebenaran yang asli, ketika semakin banyak entitas lain yang tiba-tiba membuat KTP palsu dengan nama dirinya.

Akhir-akhir ini, semakin banyak entitas yang membajak namanya. Akun-akun media sosial banyak bermunculan dengan username kebenaran. Membuat Kebenaran menjadi bingung dan pusing.

***

Pendukung-pendukung di media, lama-lama semakin menutupi calon-calon presiden itu. Apalagi kalau pakai rusuh, kalau pake lempar berita yang kurang jelas validnya. Jadinya, banyaknya pendukung malah menutupi sosok yang harus didukungnya. Indonesia jadi bingung mana yang benar mana yang tidak. Padahal, sebagai calon pemilih yang ingin saya tahu adalah bagaimana sosok para calon, sebagai satu entitas utuh yang apa adanya.

***

Mungkin saat ini kebenaran sedang berjalan di tengah kota. Mencoba meyakinkan para manusia bahwa dirinya adalah kebenaran yang asli, yang kebal terhadap segala argumen. Mungkin kebenaran sedang berkeringat dan penuh peluh. Ia kalah dengan strategi marketing yang dipakai oleh para sales itu.

Hari ini Kebenaran sudah mengunjungi beberapa perumahan. Mengetuk satu per satu pintu rumah untuk memperkenalkan diri sebagai Kebenaran. Ada yang menyambut baik dan mempersilahkan teh hangat, ada juga yang sedang tidak ada di rumah. Namun banyak yang langsung menolak karena pemilik rumah sudah mendapat kebenaran kemarin. Yang membuat Kebenaran bingung, karena ini kali pertama dia ke rumah itu, lalu siapa yang berani-beraninya mengatasnamakan dirinya?

***
Dan kemudian saya berpikir, kampanye yang semakin brutal, yang main berita-beritaan ini tidak akan pernah berhenti. Ini adalah implikasi dari sistem pemilihan yang diterapkan di negara demokrasi. Pemungutan suara bisa membuat orang bebas kendali untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya. Toh, suara orang yang tidak mengerti sama sekali dengan suara orang yang sangat berpendidikan dihitung sama. Hasilnya tentu saja tidak bisa menjamin bahwa yang terpilih adalah yang terbaik. Hasilnya, yang terpilih adalah yang mendapat coblosan terbanyak. Entah dari kertas coblosan yang diselundupkan, suara yang dipaksa untuk memilih, mereka yang memilih namun informasi yang masuk tidak benar, atau dari suara yang memang mendukung dan tahu kebenaran. Entah dari sesuatu yang benar atau tidak.

***

Mungkin saat ini kebenaran sedang melihat para manusia berhuru-hara dan heboh menyambut suatu hal yang mereka anggap itu kebenaran. Mereka yang sibuk menyembah entitas-entitas bayangan kebenaran abal itu.

***
Padahal, yang terpilih adalah yang menentukan nasib Indonesia. Saya cukup miris karena keputusan sepenting ini dibuat dengan cara yang kurang terdidik. Kecurangan, manipulasi informasi, framing media, dan berbagai macam hal yang mengancam kebenaran, sangat bisa masuk ke dalam sebuah keputusan.

Namun, terlepas dari banyaknya kekurangan, semoga saja Indonesia akan mendapatkan pemimpin terbaiknya.

***

Mungkin saat ini kebenaran sedang di suatu tempat yang tidak dilihat orang sama sekali. Dia sedang menunggu waktu yang sangat tepat untuk akhirnya memunculkan diri. Melawan segala entitas lain yang mengganggu kestabilannya di dunia. Dia akan menyingkarkan segala bayangan abal-abal itu dengan jurus fakta dan sejarah yang terekam oleh Yang Maha Melihat.

nb: Ketika Allah mengizinkan saya untuk membuat media nanti, saya akan bertemu dengan Kebenaran dan membantunya untuk mengambil kembali hak atas identitasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s