Run Mas John Run

Malam itu jalanan cukup ramai. Banyak kendaraan memadati jalan terutama jalur ke arah Bogor. Di pinggiran jalan itu, saya duduk di sebuah kursi kayu. Sambil berdoa untuk kesembuhannya, saya teringat betapa dia telah menjadi suatu berkah yang diberikan olehNya. Mas John yang selama ini sangat setia menemani saya dan teman-teman harus dioperasi ringan karena di jalan dia mengalami luka. Entah kena paku atau apapun. Sehingga bannya harus diganti.

Menunggu Mas John diganti bannya di sebuah tambal ban membuat saya diam menikmati masa-masa bersamanya. Usianya baru sekitar 5 atau 6 tahun. Saat dulu ia masih di Surabaya, saya jarang menggunakannya karena saya lebih biasa untuk nebeng dengan teman. Semenjak ia dibawa merantau ke Depok, Mas John perlahan terlihat perkembangannya. Sejak saat itu, hidup saya menjadi lebih mudah. Dia makin sering saya bawa ke mana-mana, menjadi salah satu pengiring setia dalam perjalanan.

Peran Mas John tidak berhenti sampai di sana. Keberadaannya perlahan menjadi sebuah keberuntungan bagi sekitarnya. Teman-teman saya, terutama yang penuh jiwa petualang namun tidak punya kendaraan, juga suka membawa Mas John kemana-mana. Ada yang membawanya sekedar untuk membeli makan, ke kampus, pergi ke Jakarta, bermalam di Bogor, sampai dibawa ke Puncak. Pamor Mas John makin lama makin meningkat di kalangan mahasiswa UI. Bukan hanya masyarakat Fasilkom yang menggunakan, namun teman-teman dari fakultas lain juga.

Menjadi pelindung setia tentu bukan berarti tanpa sendu. Tahun lalu, Mas John mengalami sakit terparahnya. Di daerah sekitar halte Menwa, ketika saya naiki, tiba-tiba badan Mas John terbelah menjadi dua. Antara stang dan tubuhnya terpisah perlahan dan akhirnya Mas John jatuh (ini beneran). Hal ini tentu sangat menyesakkan kami, para sahabat Mas John. Saat itu dia dibopong menggunakan mobil polisi ke kediaman Mares dengan tubuh yang terbelah. Beberapa hari kondisinya kritis, dia koma tak terpakai. Hingga akhirnya setelah operasi berat beberapa jam, tubuh Mas John bisa tersambung lagi.

Saat ini dia masih tegap bersanding di parkiran Mares. Walaupun saya ke Surabaya, Mas John tetap dengan gagah mengarungi jalanan Depok. Teman-teman saya tanpa enggan meminta Mas John untuk menemani mereka. Siapapun yang menggunakannya, dia akan berkomitmen dengan raganya untuk menjadi pengantar setia.

Tanpa lelah, tanpa letih. Walaupun dia sering kehausan karena diberi bensin ketika sudah kritis, tapi pengorbanannya untuk kami tidak pernah berhenti. Walaupun beragam tangan menggenggam stangnya, dia tidah pernah protes karena statusnya yang sudah menjadi publik. Karena baginya, mengantar para manusia menuju jalan kebermanfaatan adalah perjuangan yang dia pilih.

Terima kasih Mas John, teruslah berlari mencapai berkahnya.

Run Mas John Run!

Mas John yang kami cinta

Mas John yang kami cinta

Run Mas John Run! Semangat menempuh kilometer kita :D

Run Mas John Run! Semangat menempuh kilometer kita 😀

Luka dan pilu yang menyertaimu tidak akan menjadi alasanmu untuk berhenti, Go Mas John!

Luka dan pilu yang menyertaimu tidak akan menjadi alasanmu untuk berhenti, Go Mas John!

PS: Maaf apabila sedikit berlebihan wkwk

Advertisements

One thought on “Run Mas John Run

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s