Baca Buku Lagi

Yes. Akhirnya saya menyelesaikan satu buah buku lagi. Setelah lama sekali vakum baca buku dengan serius, seminggu lalu saya memutuskan untuk baca buku lagi. Judulnya Titik Nol karya Agustin Wibowo. Dan saya ketagihan.

Dulu, zaman-zaman sebelum kuliah, hobi saya mutlak baca buku. Kalau masa SMA, Novel-novelnya Dan Brown in syaa Allah saya khatam semua. Cerita petualangannya Hercule Poirot dan novel Agatha Christie lainnya datang bergantian. Di zaman jahiliyah SMP, novel-novel teenlit centil benar-benar ekstasi. Walaupun teenlit tetap buku, kan? Kalau masa SD, novelnya Asma Nadia, detektif remaja, dan beragam novel ukuran kecil dari Mizan yang selalu dibaca. Alhasil, kalau ke mall, Gunung Agung atau Gramedia jadi tempat wajib untuk didatangi. Bahkan pernah sampai 4 jam saya dan adik saya berada di sana, baca beragam buku yang diam-diam kita lepas plastiknya.

Entah kenapa, makin dewasa makin jauh dengan habit membaca. Entah karena sok sibuk atau sok mau baca buku berat yang malah jadi wacana. Memang sih saya belum pernah bisa khatam baca buku selain buku cerita. Buku penuh motivasi seperti karyanya John C. Maxwell atau Rhenald Kasali selama ini dibaca bab-bab tertentu saja (dan itu sudah sangat menginspirasi!). Begitu juga dengan buku yang berjiwa akademisi seperti buku tentang Human Information Interaction dan Changing Minds yang belum selesai-selesai. Eh kecuali Law of Simplicity-nya John Maeda ding. Entah kenapa untuk buku seperti itu saya tidak ada hasrat untuk menamatkan, cukup dibaca pada bagian yang tepat di waktu yang dibutuhkan. Dan beberapa waktu lalu saya memaksakan diri untuk membaca jurnal dan buku-buku ini, sampai saya enggan untuk menghabiskan waktu saya dengan membaca buku novel lagi. Akhirnya, jurnal-jurnal itu lama kelamaan saya tinggalkan karena bosan, dan saya tidak melirik buku-buku lain lagi.

Penurunan habit membaca ini sebenarnya sayang banget, karena dengan membaca saya merasa bahagia. Ini benar, bukan gombal. Saya bisa belajar mengenai sudut pandang luar biasa dengan penuturan yang sangat lugas dan sederhana dari To Kill a Mocking Bird-nya Harper Lee. Saya bisa belajar tentang bagaimana konflik antara Cina dan Tibet, kehidupan orang tanpa listrik tanpa matahari di Pakistan, dan iyuh-nya India lewat Titik Nol. Saya jadi paham mengenai bagaimana Taliban datang ke Afghanistan lewat Kite Runner dan kisah gejolak PKI lewat Pulang. Bahkan buku bisa mengubah mimpi saya, yang awalnya anti ke Eropa karena takut dingin berubah menjadi super ngebet ingin S-2 di Eropa gara-gara ngiler setelah baca 99 Cahaya di Langit Eropa-nya Hanum Rais.

Pengalaman baca buku itu yang membuat saya selalu puas ketika menamatkan satu buku. Saya jadi belajar sudut pandang baru, cerita baru, dunia di luar sana, dan yang terpenting, saya jadi merasa pintar, merasa jadi pribadi yang lebih baik. Namun, selepas SMA, saya menjadi jarang menikmati buku lagi. Penuntutan dan pengelompokan berlebihan dari dalam diri saya tentang mana yang boleh saya baca agar bisa S-2 di luar negeri malah membuat saya semakin jauh dengan buku. Saya jadi terpaku, sebagai mahasiswa yang ingin S-2 ya harus rajin baca jurnal, ketika sebelum tidur ya baca jurnal, ketika nganggur ya baca jurnal. Hingga saya bosan baca jurnal dan memutuskan istirahat sebentar dari kepenatan membaca. Kesibukan yang berlebihan dan tidak jelas arahnya juga membuat saya lupa dengan kesenangan yang saya dapatkan dari buku. Alasan tidak ada waktu luang jadi tameng paling keren ketika melirik novel yang teronggok di lemari sana, “Nanti saja habis UAS biar tidak terganggu.”

Sebenarnya tidak usah merasa terlalu (sok) akademisi dan nge-mahasiswa hingga melupakan membaca buku novel yang menyenangkan itu. Tidak usah terlalu terpaku untuk baca jurnal, buku karya dosen, buku dengan judul yang serius, atau buku berbahasa Inggris sampai melupakan rasanya berjam-jam tanpa sadar larut dalam cerita. Semua buku itu indah, berkualitas, tidak ada kasta. Entah itu paper internasional, novel fiksi, novel teenlit, cerita pembunuhan, atau sirah nabi; lewat buku kita belajar. Dan bagi saya, membaca buku itu suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Bukan sekedar mencari waktu luang, namun juga meluangkan waktu untuk melakukannya.

Reading book is enjoyment, one way to feel happiness, not a torture in boredom.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s