Dadah, Teman-Yang-Selalu-Dekat-Dengan-Saya

Saya punya teman. Yang selama 20 tahun saya hidup, dia selalu berada di dekat saya, mendampingi saya ke mana-mana. Namun jeleknya, saya sering terlalu memanjakan dia. Saya sering menuruti dia dan jadinya lama-lama dikendalikan olehnya. Dan setelah mengikuti apa maunya, life is damn.

Contohnya,

ketika saya sedang di jalan menuju kampus, saya melewati dosen saya yang sedang kesulitan karena mobilnya mogok. Saya merasa bahwa saya harus turun dan menolong beliau, walaupun saya mungkin tidak terlalu berpengaruh karena tidak tahu masalah mobil. Namun, teman saya yang satu ini menahan saya untuk melakukannya karena saya tidak punya kemampuan dalam mereparasi mobil dan saya sudah ada rencana pagi itu. Dan saya sayangnya berpihak pada teman saya.

Hasilnya? Sudah dua hari hidup saya merasa kurang tenang.

Banyak kasus lain ketika saya menuruti apa kata teman saya itu, saya malah menjadi tidak tenang. Contohnya, ketika Ibu menelepon saya seharusnya bisa lebih interaktif, namun teman saya bilang bahwa saya mengantuk jadi saya hanya bicara apa adanya. Atau ketika saya melihat ada bapak penjual pempek yang perlu dibantu, teman saya menolak karena dia merasa itu bukan tanggung jawab saya untuk menghabiskan seluruh pempeknya.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk perlahan lepas dari teman saya. Ketergantungan ini sepertinya harus dihentikan. And I have to stand on my own feet.

Dadah, teman yang selama ini selalu dekat dengan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s