Yeah Menulis!

Zaman dulu kala, ketika saya masih jadi mahasiswa baru, saya pernah ingin menulis untuk koran. Namanya juga mahasiswa baru, masih semangat-semangatnya membela rakyat Indonesia dengan pasal UUD dan kata-kata KBBI. Kemudian, dengan pemahaman yang super sok tau, saya (sok) menulis tentang kondisi Indonesia dan pergerakan-pergerakan. Di tulisan itu saya komplain tentang pemerintahan, bahas-bahas korupsi, sok menggurui tentang pendidikan dan kemiskinan, pakai data dan angka yang didapat dari koran, dan quote keren hasil googling. Ketika tulisannya selesai diketik, rasanya keren. Gila! Tulisan gue mahasiswa banget nih!

Dan tidak ada koran yang menerimanya. Hahahahha.

Beberapa tahun berlalu sejak semangat maba-menulis-tentang-Indonesia-di-koran itu, saya menyadari beberapa hal tentang menulis. Bukan hanya hidup, ternyata menulis juga harus mempunyai tujuan dan perencanaan. Menulis itu bukan menyampaikan segala hal yang kita dapat di Google dan berita ke dalam kata-kata. Menulis itu bukan ajang pamer wawasan. Menulis itu tentang alur berpikir. Dari tulisan yang kita buat, bisa kelihatan bagaimana cara kita berpikir dan menyampaikan pendapat. Kalau isinya lari-lari ke mana-mana, tentu saja kelihatannya kurang fokus, sistematis, dan kurang memahami masalah. Oleh karena itu, penting banget untuk menentukan tujuan penulisan, apa harapan kita terhadap pembaca, dan perubahan apa yang ingin kita bawa di tulisan ini. Bahkan di kelas Kombistek dikatakan bahwa 50% waktu menulis dihabiskan untuk perencanaan.

Hal lain yang saya sadari adalah bahwa menulis bukan sekedar menggunakan kosa kata super rumit atau angka-angka persentase saja. Namun lebih ke bagaimana cara menyampaikan sesuatu dengan sesederhana mungkin. Saya saat ini sangat suka dengan tulisan yang bisa menyampaikan hal yang besar dengan penyampaian yang sangat sederhana, bahkan bisa dipahami oleh anak kecil (To Kill a Mocking Bird masih juara dalam hal ini! :””). Ketika kita mampu menyampaikan suatu hal dengan sederhana, berarti kita memahami apa yang kita sampaikan. Dan saya pribadi ketika membaca tulisan super panjang dengan bahasa dan data yang absurd langsung berpikir, oh please don’t give me a shit. Menulis itu tentang bagaimana pembaca bisa paham apa yang kita tulis. Dan hal sederhana lebih mudah diterima dan dipahami.

Satu hal lagi yang saya sadari tentang menulis, put your heart into it. Apapun topiknya, benar-benar curahkan hati dan pikiran kita ke topik tersebut. Intinya, harus paham tentang apa yang kita tulis. Kalau saya lebih suka untuk menulis apa yang kita pahami saja. Kalau menulis apa yang tidak kita pahami rasanya akan seperti, “Lo ngomong apa sih?” Makanya tulisan yang berisi pengalaman atau hal yang kita sukai lebih terasa hidup.

Dan akhirnya saya sekarang jadi super ikhlas tentang tulisan saya zaman maba dulu yang banyak ditolak haha. Saat itu saya tidak menganggap menulis sebagai suatu hal yang mempunyai esensi. Dulu saya pikir menulis semata-mata tentang buka laptop, mulai mengetik, dan googling. Ternyata sebelum mengetik di Ms. Word, ada banyak hal sakral yang menjadikan tulisan kita hidup. Dan lagi-lagi content is a king. What we write and the purpose behind it really do matter.

Yeah!

Advertisements

2 thoughts on “Yeah Menulis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s