Hidup oh Hidup

Cerita ini bermula dari jadwal ngintip (kegiatan mencari konten untuk intip.org) bersama Ari.

Sore itu, kami berencana untuk ngintip 5 orang dalam perjalanan pulang ke kontrakan. Kami mengintip seorang penjual koran yang mulai menabung untuk anaknya yang berumur 2.5 tahun, seorang kakek penjual tisu yang sangat tua, dan seorang anak SMP Master yang menyambi jualan tisu. Sampai pada anak itu-lah, cerita ini dimulai.

Pertanyaan-pertanyaan yang biasa kami ajukan ketika ngintip adalah yang berkaitan dengan mimpi dan apa yang sudah ia lakukan hari ini untuk mencapainya. Di akhir wawancara kami dengan si anak penjual tisu itu, dia bilang, “Kak bantu saya dong beli tisu ini.” Okay, kami pun membeli tisunya.

Kemudian si anak bilang lagi, “Kak mau bantu saya ga beli sepatu? Saya ga punya sepatu kak. Teman-teman yang lain punya, padahal besok harus pakai sepatu blablaghfdahdsga.” Dia merengek dan mengeluarkan kalimat yang intinya adalah meminta iba kami agar membelikan dia sepatu.
“Di sana ada kak sepatu harganya 35rb, tapi saya bisa tawar jadi 30rb aja.”
“Yaudah yuk beli sepatu,” kata Ari, dengan asumsi ada toko sepatu di daerah dekat sini.

Kami pun menyusuri jalan bertiga. Sambil tengok kanan tengok kiri, “Mana toko sepatunya?” Sampai akhirnya kami di ujung jalan, belum kelihatan ada tanda-tanda orang jualan sepatu.
“Mana yang jualan sepatu 30ribuan itu?”
“Di Depok Baru kak.”
Bang! Asumsi kami adalah di susuran jalan Sawo ini.
“Hmm gue kira tadi di sini. Yaudah kita beliin buku aja ya?”
“Gamau kak, saya kan maunya sepatu.”
“Tadi bukannya kamu bilang kalau ga punya buku juga?”
“Iya kak tapi kan saya maunya sepatu sekarang. Kakak gimana mau nolong orang lain, kalau mau nolong anak jalanan aja ga jadi blablablabladbahsdgsdfsasgkdfasgfjsd.”

Dia mengeluarkan serangkaian kalimat itu lagi.

Kalau kami langsung memberikan uang ke dia, kami tidak yakin dia akan menggunakannya dengan baik. Sedangkan Depok Baru jaraknya cukup jauh dari sini. Dan toko sepatu terdekat dari sini adalah Detos.

Ari dan saya kemudian berdiskusi, “Ke Detos nih kita?”

***

Awalnya kami hanya mau ngintip saja. Wawancara singkat ke orang-orang di jalan tentang apa mimpinya dan apa yang sudah dia lakukan hari ini untuk mencapainya. Sambil jalan pulang ke kontrakan sore-sore. Ternyata. Yang diwawancara minta dibeliin sepatu. Yang katanya murah dan dekat dari sana. Ternyata itu di Depok Baru. Dan akhirnya Saya, Ari, dan si anak naik angkot ke Detos, bertiga. Super random.

Hidup oh hidup.

PS: ngintip kemarin banyak ketemu orang susah nih :”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s