Ketika Sedang Galau

Kemarin (kemarinnya lagi) saya habis nonton film. Di film itu ada scene di mana Pak Polisi lagi latihan menembak pakai pistol. Dia pakai penutup telinga dan kacamata gaul. Ketika dia menembakkan pelurunya, boom. Ada hentakan ke belakang di pundaknya, ada serbuk mesiu di wajahnya. Super duper cool.

Kemudian saya jadi teringat salah satu hal yang saya suka lakukan ketika galau: membayangkan diri saya menembak dengan pistol beneran. Jadi ketika masa-masa Unas SMA, saya pernah merasa super hectic dengan berbagai try out dan pikiran-pikiran lain. Saat itu saya membuat daftar apa saja yang akan saya lakukan ketika galau melanda. Seperti menembak dengan pistol, naik kuda pacuan, main Yabusame, main barongsai, dll. Dan daftar itu masih saya gunakan sampai sekarang. Ketika galau saya suka membayangkan bebasnya ketika saya sedang duduk di punggung kuda sambil membungkukkan badan untuk mengurangi hambatan angin sambil memakai topi dan sepatu yang lucu. Fantasi favorit saya sampai saat ini adalah menembak dengan pistol beneran, disusul dengan naik kuda pacuan.

Selain berfantasi, saya juga senang mendengarkan lagu bertempo selo. Most favorite sampai saat ini adalah lagu True Colors sambil ikutan nyanyi bareng Phill Collins dan membayangkan saya sedang bernyanyi di depan kelas dengan penuh penghayatan. Haha :”)

Antara berfantasi dan mendengarkan lagu, dua-duanya sama-sama menjadi pelarian yang baik. Entah itu galau karena merasa gagal, kehilangan percaya diri, atau galau-galau anak muda lainnya. Namun most frequent galau adalah yang kedua. Anyway, ketika berfantasi, saya mendistribusikan kegalauan ke peluru yang baru saja saya tembakkan. Ketika mendengarkan lagu, saya memaklumi kegalauan itu dengan liriknya True Colors, “…oh I realize it’s hard to take courage, in the world full of people you can lose sight of it all..” Jadi saya bisa sedikit meringankan beban kegalauan ini ke peluru khayalan dan lirik itu. Namun efeknya tidak lama, hanya sementara. Ketika pelurunya sudah selesai menembus papan target, rasa bebas galau itu sudah selesai juga. Sedangkan lirik-lirik itu terlalu cupu untuk membawa terlalu banyak beban. Mereka adalah pelarian yang baik, namun bukan solusi yang baik.

Namun kemarin (kemarin, kemarinnya lagi) saya mencoba hal yang jarang dilakukan ketika galau: nangis. Saya suka bingung bagaimana bisa nangis ketika galau, karena saya biasa menangis ketika batuk, muntah,menguap, tertawa, kepedasan, dan konflik. Akhirnya ketika galau saya mencoba menangis, sambil mengadu dengan mewek (muka saya pasti super jelek saat itu) sambil sujud dan pakai mukenah. Well, ternyata lumayan oke. Saya bisa tidur dengan lebih tenang dan galaunya terangkat dan saya mendapatkan solusi dari kegalauan tersebut. Jadi, mewek sambil sujud sambil pakai mukenah dan menggantungkan diri hanya padaNya adalah solusi galau terbaik saat ini yang pernah saya coba.

image

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Sedang Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s