Adik Terhebat

Muhammad Avisena. Tahun ini dia menginjak usia 17 tahun. Wah, sudah 17 tahun rupanya kami bersaudara. Walaupun sudah selama itu, saya belum merasa mengenal dia dengan baik. Apalagi saya kuliah di luar kota yang menyebabkan intensitas pertemuan kami jadi jauh berkurang.

Dahulu, saya paling khawatir dengan Sena. Dia sangat cuek dan berbeda, enggan memanggil saya “Mbak”, dan hidup dalam aturannya. Saat dia TK dan SD, Sena tumbuh jadi anak yang nakal. Kami pernah berantem sampai saya dicakar, saya pernah menghardiknya dan mengatakan dia bodoh (well, saya sangat menyesal), dan berbagai hal lain. Dia pernah diprotes oleh gurunya karena dianggap kurang pintar atau autis. Sejak di bangku SMP, Sena mulai berubah. Dia yang dulu aktif sekarang lebih diam. Seperti remaja lainnya, dia mempunyai dunia sendiri yang tidak mau dicampuri orang lain. Dia banyak menutup diri, dan tidak suka bersosialisasi di lingkungan rumah. Begitu juga sampai dia di SMA dan saya harus ke Depok. Sampai sekarang pun, dia masih Sena yang diam dan berbeda. Bahkan ketika dia ikut denganku dan teman-teman ke Malang, dia duduk paling belakang di bis, sendirian. Mungkin beberapa orang merasa aneh dengan perilakunya. Saya sudah cuek dan tidak ambil pusing lagi dengannya.

Entah apa yang ada di pikirannya, Sena sangat cuek dengan penghargaan duniawi. Lulus Kumon Matematika, pintar bermain gitar klasik, hapal sejarah perang Pearl Harbour, mengerti isu konspirasi dunia, dan pintar memasak makanan enak. Saya saja iri dengan kemampuannya, apalagi orang lain. Tidak pernah dia sengaja menunjukkan kehebatannya untuk diapresiasi oleh dunia. Bermain gitar klasik saja, dia selalu di dalam kamarnya yang tertutup. Bahkan dulu dia pernah pulang ke rumah sembunyi-sembunyi karena membawa piala juara 3 dari sekolahnya. Hari ini saya baru menemukan bahwa Sena selama ini rutin menulis di blog. Dia menulis pemikiran, hobi, dan kegemarannya di http://beseventeen.wordpress.com/ dengan menggunakan nama samaran (entah kenapa dia harus memakai nama samaran). Di sana banyak ulasan tentang sejarah perang dunia II, konspirasi, pendidikan Indonesia, nasib rakyat kecil, dan hal hebat lainnya yang tidak terpikirkan oleh saya.

Jujur, selama ini saya merasa lebih “hebat” dari Sena. Saya merasa lebih pintar, gaul, dan berpengalaman. Namun saya kisut, saya yang pernah mengulang mata pelajaran Sejarah dan tidak hapal sejarah Indonesia ini, saya yang buta nada dan tidak bisa bermain alat musik apapun ini, bukan apa-apa dibanding Sena. Malunya lagi, saya mungkin masih menjadi manusia kebanyakan, yang secara manusiawi masih butuh penghargaan dan pengakuan dari orang lain, tapi Sena sepertinya mencari hal yang jauh lebih besar dari itu.

Apapun itu, Oktober ini Sena akan menginjak usia 17 tahun. Usia dia boleh jadi masih remaja, usia emas, namun isi pemikirannya sudah jauh melebihi saya yang 3 tahun lebih tua ini. Di sini saya membuat pengakuan bahwa saya, Hana Fitriani, bangga mempunyai adik bernama Muhammad Avisena. Saya tau dia mempunyai mimpi yang besar dan mulia, dan saya percaya suatu saat dia akan meraihnya.

Sena orang hebat. Saya percaya.

Selamat ulang tahun adik terhebat!

Advertisements

2 thoughts on “Adik Terhebat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s