Lagi-lagi Mimpi

Di minggu pertama kuliah, aku diberi kepercayaan untuk mengisi mentoring untuk anak-anak mahasiswa baru ini. Awalnya bingung, apa yang harus aku beri ke mereka? Apakah tentang landasan-landasan fiqh atau tentang hukum-hukum Islam? Sejujurnya aku masih takut kalau harus berbagi tentang hal itu. Bukan karena tidak menarik, namun aku masih sangat minim dan penuh tanda tanya tentang pengatahuan semacam itu. Akhirnya aku memutuskan untuk berbagi kepada mereka, tentang hal sederhana yang bahkan tidak perlu mentoring untuk mendapatkannya, tentang mimpi.

Lagi-lagi mimpi.

Aku bercerita kepada mereka tentang kehidupan di UI yang pernah aku temui. Aku beberkan kepada mereka, bahwa kampus kuning ini layaknya mini dunia yang menyediakan banyak hal dan kesempatan. Dari segi lingkungan, kampus ini mempunyai banyak pilihan mulai dari yang terkesan alim sampai disko. Begitu pula dengan kesempatannya, entah itu ranah pendidikan, kewirausahaan, politik, sosial, dan sebagainya. Banyak sekali. Bahkan terlalu banyak yang ditawarkan untuk diserap semua oleh anak kecil sepertiku, seperti mereka. Dan itu tidak hanya terjadi di kampus kuning ini. Dunia sana menawarkan lebih banyak hal, yang jauh lebih besar, yang jauh lebih ganas. Kalau UI itu lautan, samudera adalah tempat yang akan aku tuju apabila keluar dari sini. Bukan lagi ikan sarden 300 kg yang bisa ditemui, tapi hewan semacam paus biru raksasa yang akan menyapa. Bukan lagi hujan yang turun, tapi badai yang terlibat.

Di lautan yang super luas ini, aku ceritakan pada mereka, keyakinan-lah yang membuat kita terus berlayar. Keyakinan terhadapNya dan keyakinan terhadap diri sendiri. Salah satu tali terkuat yang menjaga layarku adalah, mimpi dan keyakinan diri sendiri. Aku kasih tau ke mereka, bermimpilah, tetapkan tujuanmu. Kamu tidak akan kemana-mana tanpa tujuan dan navigasi yang jelas. Kamu hanya terombang-ambing menunggu daratan tanpa bermimpi.

Berlayarlah di lautan super luas ini, dengan keyakinan dari dalam diri. Tanpa melihat kemana yang lain pergi, pergilah ke daratan yang kamu incar.

Tentukan parameter suksesmu, itu yang aku tekankan pada mereka. Ambil inspirasi sebanyak-banyaknya dari mereka yang telah mencapai tujuannya, atau yang sedang berusaha keras menuju ke tujuannya. Belajar banyak dari lingkungan ini dan serap, serap, serap. Kemudian tentukan, apa sukses menurutmu? Tanpa merasa minder, tanpa merasa tertekan. Biarkan saja apabila orang lain sudah melanglang buana ke seluruh dunia dan kamu masih terpaku di gedung ini. Biarkan saja orang lain mengoleksi berbagai macam piagam sedangkan kamu hanya mempunyai sertifikat sebagai peserta. Biarkan saja selama kamu tetap fokus mencapai tujuanmu. Biarkan saja asal kamu mengerti tujuanmu dan suksesmu. Seperti yang pernah diceritakan Rene Suhardono kepada saya, “Kamu adalah juri terbaik dalam hidupmu!” Bukan orang tua, teman, atau dosen yang menentukan kesuksesanmu, tapi kamu sendiri.  Karena kamu hidup dengan kaki yang berbeda dengan orang lain, karena kamu hidup di rumah yang berbeda. Karena tujuanmu, definisi suksesmu yang menentukan masa depanmu.

 Winners compare their achievements with their goals, while losers compare their achievements with those of other people. -Nido Qubein

Entah apa yang mereka tangkap dalam 15 menit singkat aku berbagi. Mungkin aku bisa dikatakan Dewi Mimpi karena sering menggembor-gemborkan tentang mimpi dan tujuan. Setidaknya sampai saat ini, aku belum mati karena mimpi.

 

Salam semangat untukku, mentee-menteeku, dan kamu. Selamat menuju daratan incaranmu.

Advertisements

2 thoughts on “Lagi-lagi Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s