Mimpi

Wacana!

Itu adalah kata yang paling sering terlontar apabila kami bertemu. Kata yang paling sensitif untuk dikeluarkan apabila kami bersua. Demi menghapus cap kata itu ditambah dengan semangat meraih masa depan, kami membentuk visi baru. Kami bermimpi, dan kelak merealisasikannya.

Kami menulis mimpi-mimpi kami dalam satu file bersama lengkap dengan parameter keberhasilan dan kapan target pelaksanaannya. Selanjutnya, kami berperan sebagai “wacana watcher” bagi yang lain.

Lucu ketika membaca mimpi-mimpi mereka. Ada yang mau punya perpustakaan, bikin kafe, sampai “find the one” mereka tulis secara detil. Bahkan, hanya dengan membaca list imajinasi itu, rasanya bikin semangat dan bangkit untuk merealisasikannya. Rasanya tidak sabar untuk membuat daftar mimpi tersebut menjadi daftar kenyataan. Walaupun rasanya mimpi-mimpi yang tertera terlalu muluk-muluk, tinggi, dan tidak mungkin, kami bisa melihatnya. Kami bisa melihat seorang dari kami baru saja memenangi perlombaan internasional dan memasang penghargaannya di dinding perpustakaannya yang penuh dengan kumpulan novel favoritnya. Ada juga yang sedang duduk santai di atas sofa empuk di home theaternya dengan sound system dan layar TV yang sangat besar hasil dari penjualan aplikasi buatannya yang sangat bermanfaat bagi umat. Ada juga seorang dari kami yang telah melahirkan generasi terbaik dan membuat sekolah inspirasi dengan kurikulum yang menyenangkan sepulangnya dari studi S2 di Eropa. Atau bahkan ada yang sedang menggelar mentoring kreativitas bersama John Maeda di kafenya yang telah ia dirikan sejak kuliah.

***
Di sebuah peresmian Disneyland di Orlando, Florida, ketika Nyonya Disney diminta untuk berbicara (saat itu Walt Disney sudah meninggal), ada pengunjung yang berteriak lantang, “Nyonya Disney! Uh, saya berharap Mr Disney bisa melihat semua ini.”
“Ya, ia sudah melihatnya kok” jawab Nyonya Disney.

***

Mimpi itu dalam bahasa manajemen disebut visi. Yaitu, kemampuan melihat sebelum orang-orang lain mampu menyaksikannya. Disney sudah melihat arena fantasi ini lewat “mimpi-mimpi” dalam fantasinya, jauh sebelum kita semua melihatnya secara kasat mata – Rhenald Kasali dalam bukunya, Change!

Sampai jumpa di Baker Street, teman-teman. Jangan lupa bawa jas yang tebal dan secangkir teh, dengar-dengar hawa di sana cukup dingin. Oh ya, siapkan juga ide-ide dan rancangan mimpi kita untuk membuat rumah Quran di depan markas Holmes dan Watson ya!

Caterpilight

Advertisements

2 thoughts on “Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s