Keindahan Lain Surabaya

Selama tiga hari saya keliling Surabaya bersama teman-teman di FUKI.  Tugu Pahlawan, Masjid Sunan Ampel, Suramadu, Eco Green Park Malang, dan Masjid Al-akbar kami datangi. Tempat-tempatnya seru dan menarik, benar-benar menunjukkan sisi keindahan Surabaya. Pokoknya, jalan-jalan ke sana bersama mereka rasanya mau bilang, “Gimana? Keren kan Surabaya?” dengan nada sombong.

Besoknya, saya pergi ke suatu sudut kota Surabaya lagi. Kali ini bersama teman dari PPSDMS putri dari Jakarta. Namun, bukan tempat wisata yang kami kunjungi, tapi “tempat wisata.” Berada di daerah sekitar Mayjend Sungkono, kami pergi ke sana, ke tempat yang namanya Dolly. Dolly itu terkenal sebagai wilayah lokalisasi (tempat prostitusi) yang cukup besar dan luas. Suasana di sana cukup, emm, mencekam (?). Banyak pub dan karaoke yang memasang kaca besar dan di dalamnya ada wanita-wanita dengan busana tertentu. Ada yang pakai daleman dibalut dengan selendang transparan ada juga yang pakai baju ketat dengan sepatu boot. Mereka duduk di sofa-sofa di dalam pub dan banyak orang (kebanyakan pria) mengintip mereka lewat kaca besar di depan. Kalau kata orang-orang sih namanya aquarium. Suasana malam tidak hanya dibentuk secara visual saja, terdengar bunyi karaokean yang sangat keras dari berbagai pub dan wisma di sana.

nih, tempat karaoke yang paling besar
nih, tempat karaoke yang paling besar
Ada yang masuk ke aquarium ><
Ada yang masuk ke aquarium ><

Pergi ke daerah tersebut bukan pertama kalinya bagi saya. Dulu juga pernah sekitar 2x mengunjungi tempat tersebut dalam rangka mengerjakan tugas dan proyek. Namun saya pertama kalinya mengunjungi suatu sudut di daerah tersebut. Di sana ada sebuah rumah sangat sederhana yang dihuni Pak Kartono dan keluarganya. Di dalam rumah tersebut bukan berisi wanita dan kamar seperti tetangga depan rumahnya, tapi berisi anak-anak dan buku-buku.

Namanya Taman Bacaan Kawan Kami yang didirikan sekitar tahun 2007 oleh Pak Kartono yang mantan dermo. Di tempat ini, anak-anak yang masih belum “dewasa” sering dititipkan. Mereka belajar, baca quran, dan baca-baca buku. Di sana sudah terdapat kurang lebih 3000 buku bacaan bagi mereka mulai dari buku berat tentang sejarah, tajwid, biologi sampai kartun Smurf. Suasana dalam rumah tersebut sebenarnya tidak kondusif untuk anak-anak. Berjarak 1m di depan wisma dan pub, suara nyaring dari karaoke sampai masuk dan menghiasi rumah baca ini. Walaupun tidak mudah, taman baca ini mempunyai harapan besar terhadap anak-anak di sana.

Karena anak-anak di sana berbeda. Bukan lapangan bola luas atau kolam ikan yang menjadi habitat permainan mereka. Walaupun mereka tinggal di Rumah Tangga (warga di sana yang tidak membuka jasa wisma menulis “Rumah Tangga” di depan rumahnya), suasana malam ala orang dewasa mereka rasakan juga. Bukan suasana kampung dengan penjual nasi goreng dan tukang sate berseliweran yang mereka lihat. Bukan nyanyian dari kereta kelinci dan odong-odong yang mereka dengar. Sudah lewat jam 21:00 namun nyanyian karaoke masih nyaring terdengar. Wanita-wanita masih berjejer di sofa dan para pria masih betah mengintip aquarium.

“Anak-anak di sini kan kasian Mbak, kalau gak dikawal terus mereka bisa ngikutin orang tuanya”

Alhamdulillah saya dibesarkan di lingkungan yang in shaa Allah baik. Alhamdulillah masih ada orang seperti Pak Kartono dan keluarga yang peduli. Alhamdulillah saya diberi kesempatan mengunjungi mereka.

Salah satu buku di Taman Baca Kawan Kami

Salah satu buku di Taman Baca Kawan Kami

3000 buku! :D

3000 buku! 😀

Kawan Kami

Kawan Kami

***

“Tempat wisata” kali ini tentu berbeda dengan Tugu Pahlawan, House of Sampoerna, atau jembatan Suramadu. Namun, tempat ini juga memiliki “keindahan” tersendiri. Tentu bukan padang rumput luas dan awan biru ala Tugu Pahlawan yang jadi keindahan tempat ini. Bukan pula barang-barang antik dan indah seperti di HoS atau lampu indah jalanan seperti di Suramadu. Indahnya berupa warna dan inspirasi yang tidak bisa ditemui di taman kota sebagus apapun. Indahnya tentang oase berupa kepedulian minoritas warga di sana untuk membangun generasi yang lebih baik lagi.

***

Ada yang anak masyarakat biasa, ada yang anak mucikari.

“Kamu suka baca buku? Paling suka baca buku apa Driky?”

“Aku paling seneng mbaca karyane Chairil Anwar Mbak. Seng judule Aku Binatang Jalang.”

Advertisements

8 thoughts on “Keindahan Lain Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s