Evaluasi

“Fasilkom ganas cuy!”
Baru semester 3, sudah banyak yang berjatuhan, Bung. Mengulang, dapat nilai mepet, IP terjun bebas, atau target-target yang belum tercapai sepertinya senang menghiasi liburan kami. Ah, yang beginian masa disuguhkan ke orang rumah. Malu sih, tapi….apa boleh buat.

Banyak yang merasakan hal yang sama. Merasa sudah melakukan yang terbaik, merasa sudah terlalu banyak yang dikorbankan. Mulai dari begadang berhari-hari, menginap untuk mengerjakan tugas, minta asistensi sana-sini, sampai membentuk kelompok belajar di sosial media kami lakukan. Rasa-rasanya sudah maksimal usaha yang kami berikan. Kalau begini, pihak lainlah yang kami salahkan. Dosennya yang gak bisa mengajar, sistemnya yang terlalu rumit dan tidak pro-mahasiswa,  atau ada salah perhitungan. Bahkan tidak hanya pihak luar saja, otak yang diberikan olehNya pun menjadi salah satu letak kesalahan ini, kemampuan kami ya memang segini saja, it’s end, case closed.

Namun kenapa begini?

***

Mungkin bukan hanya masalah waktu, usaha, dan prioritas. Ada hal lain. Selama ini yang mendorong dan memotivasiku untuk belajar adalah nilai akhir berbentuk A . Bukan sebuah alasan yang kuat sepertinya, bukan sebuah strong why. Kenapa aku harus belajar? Kenapa aku harus memahami ilmu-ilmuNya? Kenapa aku harus masuk Fasilkom? Sepertinya lebih dari mendapat nilai bagus, cumlaude, menjadi mapres, lulus, dan wisuda. Ada sebuah alasan besar untuk apa aku harus memahami semua rumus itu. Alasan yang membuatku mau berjuang dan berkutat dengan slide dosen, buku kuliah, dan soal-soal dengan ikhlas dan tanpa tekanan. Alasan yang menggerakkan badan ini secara otomatis untuk bisa melangkah lebih cepat dan menatap lebih jauh. Alasan yang bertahan jauh lebih lama dari hasil SIAK NG tiap semester.

Yang pasti bukan sekedar untuk mendapat nilai A saja, Han.

Bapak lupa, kelas 4 atau 5 SD. Bapak belajar bukan untuk mendapat ranking atau nilai bagus. Bapak belajar agar bisa memahami alam semesta dan seisinya. -best quote ever

Advertisements

3 thoughts on “Evaluasi

  1. Reblogged this on Welcome to The Jungle ^_^ and commented:
    This is it! 🙂

    Selama ini, diri ini hanya bisa merasa. Ya, merasa bahwa ada yang salah dalam diri. Baiklah, memang benar. Lantas, apa yang salah?
    Ada yang salah dalam niat (mungkin bengkok) atau selama proses? Tapi yang kurasa sebenarnya kesalahan proses bukan menjadi masalah utama. Ketidakbenaran niatlah yang menjadi masalah utama dan niatlah yang bisa mempengaruhi bagaimana proses itu berjalan.
    Jadi, di manakah kamu berpijak sekarang? Masih di bumi kan? Karena itu, bersyukurlah, terus perbaiki diri dan persiapkan bekal sebaik dan sebanyak mungkin (amalan baik) sebelum berpindah pijakan.
    Berpijaklah yang kuat, karena yang Mahakuat, karena Allah.
    Lillaahi ta’ala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s