Answering the Whys

Sekarang, detik ini, siapa yang masih hidup? Senang masih hidup? Kenapa harus senang? Kenapa tidak sedih dan menyesal harus diberi umur lebih panjang? Toh hidup lebih lama juga tidak menjamin kita terus berbuat kebaikan sehingga masuk surga. Ujug-ujug  manusia akan terus berbuat dosa dan menambahkan beban di timbangan akhirat nanti.

Atau sekarang siapa yang masih kuliah atau sekolah? Senang ya sekolah? Senang tiap minggu dikejar deadline tugas? Kenapa tidak berhenti sekolah saja?

Banyak hal yang sebenarnya tidak kita hasrati atau senangi terjadi dalam hidup ini. Entah itu kuliah, mengerjakan tugas, beribadah, atau sekedar bertahan hidup. Ada gak yang passionnya kuliah? Atau yang passionnya mengerjakan tugas dan bertemu dengan dosen? Kalau tidak, kenapa tetap kuliah? Kenapa tetap sholat dan beribadah? Kenapa tetap hidup?

Lagi-lagi banyak hal, yang bukan kita ingini tapi harus kita jalani. Dan selalu ada pendorong dari dalam diri, kenapa saya harus tetap berjalan dan tidak boleh berhenti. There is a strong why. Di balik semua hal tersebut, ada sebuah ‘strong why’ yang besar, yang dengan tegap berdiri di belakang kita, menjaga dan menopang niat dan langkah kita. Strong why-nya itu berlaku selayaknya tut wuri handayani.

Sebuah strong why yang ada di setiap diri manusia, yang menjawab berbagai kenapa harus begini begitu adalah suatu motivasi sendiri bagi manusia untuk tetap melanjutkan pekerjaannya. Kalau di teori motivasi, ada expectation theory-nya Victor Vroom yang membahas bahwa manusia bisa termotivasi karena adanya harapan atau ekspektasi dari pekerjaannya. Mungkin beberapa orang ada yang betah sholat karena iming-iming label alim, atau ada yang betah kuliah karena iming-iming ijazah. Pokoknya dalam hidup ini ada iming-iming yang memaksa manusia untuk terus maju dan tidak berhenti.

Ada baiknya sebagai manusia harus punya strong why yang fundamental, yang menjadi basis dari segala alasan, yang menjadi akar dalam setiap tindakan. Sehingga nantinya ketika grafik semangat dan iman ini sedang menurun, ada sebuah strong why yang kemudian menahan. Atau ketika grafik langkah ini mulai diskontinu dan terpecah, ada sebuah strong why yang menjaga agar selalu dalam kurva. Sebuah strong why yang hakiki, yang pasti tidak mampu manusia menciptakannya. Strong why yang abadi, bukan hanya mempunyai ijazah lalu selesai, tapi sampai matipun tetap terbawa. Sehingga nantinya kalau sudah di alam sana, ada sebuah cerita dengan benang merah tentang dunia yang kita jalani.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” -QS 51:56

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s