Rok dan Jidat Gosong

Kalau ada cinta pada pandangan pertama, ada juga judgement on the first sight. Entah memang manusia itu jelmaan dewa dengan kekuatan super atau makhluk yang sekedar sok tau, banyak manusia yang dapat menilai manusia lain sekedar dari tampilan luarnya.

Bahkan sekedar tampilan busana saja benar-benar bisa membuat judgement yang notabenenya kurang valid. Misal, ketika seseorang bertransformasi dari memakai rok ke celana, ada oknum-oknum di sekitarnya yang kecewa. Oknum-oknum pro-rok ini masalahnya bukan hanya kecewa, namun mereka juga membuat sebuah judgement bahwa si X ini telah menyimpang ke arah yang salah, berubah menjadi pribadi yang salah.

Atau ada juga seseorang yang dengan eksisnya tampil di sana-sini jadi ketua. Kerjaannya duduk-duduk sambil baca kitab suci, dari tempat ibadah sampai halte.  Jidatnya gosong. Di sekitarnya banyak oknum-oknum yang merasa bahwa si X ini adalah orang yang dapat diandalkan. Orang yang benar. Apa yang dilakukannya pasti benar, setidaknya selalu ada toleransi ketika dia berbuat tidak benar.

Sejak kapan manusia bisa menentukan benar dan salah?

Masalahnya bukan di bagian rok atau jidat yang gosong. Masalahnya ada pada penilaiannya. Seakan perempuan dengan celana adalah keburukan dan laki-laki dengan jidat gosong adalah kebaikan. Sebatas itu tentang kebaikan dan keburukan.

Terlalu buta dengan tampilan luar, terkadang manusia sampai lupa tentang yang mana yang baik atau buruk, yang mana yang benar atau salah. Manusia terlalu yakin dalam mengeneralisasikan suatu parameter tertentu untuk diidentikan dengan kebaikan dan kebenaran. Hasilnya, fokus manusia bukan pada pengembangan diri dan jiwa, namun pada tampilan luar yang mengundang penilaian.
Bukan hati, bukan karakter, bukan iman. Sering kali manusia lupa untuk peduli dan menengok apa yang ada di dalam, ke dalam hati.

Bagaimana niat kamu? Sekedar kata klise yang gampang terlupa atau sudah hadir dalam setiap langkah?
Bagaimana iman kamu? Sekedar terucap dalam petuah bagus ketika mentoring atau sudah merasuk dalam keseharian?
Bagaimaan karakter kamu? Sekedar tahu arti konsistensi dan tanggung jawab dari acara seminar atau sudah datang dalam tingkah laku?
Bagaimana konstribusi kamu? Sekedar seruan aksi atau sudah menginjak bumi?

Lupa. Bahwa kualitas manusia itu dari niat, iman, karakter, dan konstribusinya,
Manusia lupa tentang hakikat nilai pribadi.
Bukan sekedar dakwah lisan namun juga tindakan.

Sayang, bukan itu yang kebanyakan manusia ingat.

Tapi sebatas  rok dan manset
kitab suci dan jidat gosong.
Sebatas panjangnya CV dan angka di laporan akhir semester.
Sebatas panjangnya orasi dan pendukung aksi.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS: As-Saff 2-3)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s