Percaya


Jadi ingat, dulu pernah mengalami masa paling galau sepanjang masa. Hampir tiap malam nangis di kamar asrama. Selama kira-kira dua bulan masih tidak percaya, kenapa hal itu bisa terjadi. Berontak, lawan! Lawan! Lawan! Lawan sampai lepas kendali. Sumpah serapah keluar bertubi-tubi. Salahkan Tuhan, salahkan kehidupan, salahkan orang-orang itu.

Sampai akhirnya aku pasrah. Capek melawan dan hanya percaya. Percaya dengan Tuhan dan kekuasaannya.

Hingga akhirnya Tuhan membuka tabir yang lebih tebal. Baru berjalan untuk mengikuti arus, Tuhan sudah menunjukkan aku untuk berhenti. Bukan di sungai ini aku harus berlayar. Bukan di air ini perahuku mengalir. Dan dengan kekuasaannya, Tuhan menunjukkan mata air yang lebih baik. Memaksaku untuk berlayar sejenak di sungai yang tidak kuinginkan untuk nantinya bisa sampai di mata air yang lebih baik.

 

Ada yang bilang, hidup itu moving picture, bukan photograph. Semua mempunyai hubungan sebab-akibat. Yang sekarang kita anggap sebagai hal terburuk yang pernah terjadi malah bisa membawa kita ke sebuah kebaikan nantinya. Who knows?

 

…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. QS Al-baqarah:216

 

no matter how hard life is, the world is still loving you ❤

Ps: Gambar-gambar itu aku buat ketika memutuskan untuk pasrah dengan harapan akan memperkuat diriku.

Advertisements

3 thoughts on “Percaya

  1. “Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar – melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.” – Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Tere Liye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s