More Than That

“Ibnu, kamu nanti jualan binder sama Hana ya!” Kata ibuku ke Kak Ibnu di sebuah tempat makan. Asal nyeplos aja, katanya. Dua objek yang polos dan ‘dipersatukan’ itu juga iya-iya aja, gak kepikiran apa-apa. Bayangannya ya cuma jualan kecil-kecilan. Foto-foto binder di kober, pasang lewat Facebook, jualin deh. Ekspektasinya hanya, “lumayan buat tambahan beli cilok.”

Mimpi jadi Gudang Binder

“Nama kita apa nih? Gudang Binder kayanya catchy, keliatan murah.” Oke dan semua setuju namanya jadi Gudang Binder. “Kali aja nanti jadi Gudang beneran haha.” Yang lain tersenyum, “amin..haha.” Dan mimpi tersebut berakhir di sebuah ‘haha’. ‘Haha’ yang berbicara, “are you nuts?”

Mimpi Masukin ke Toko Buku

“Kita masukin ke toko buku yuk!” Dalam bayangan wah iya lumayan. Masukin aja ke toko buku murah dan kecil, kan lumayan keren juga.  Oke, gapapalah be unrealistic sedikit, masukin ke toko buku dengan modal ga ada jaringan. Pergilah tim dari Gudang Binder ke Jakarta Book Fair sebar-sebar senyum, pamer binder, dan ambilin semua kartu nama perusahaan. Dengan modal berani malu, kita telponin mereka tiap hari. Dan Alhamdulillah ada 2 yang kecantol mau janji ketemuan. Ternyata janjian sama orang sibuk toko buku tidak mudah. Kita sudah janjian hari Senin, tapi Minggu malam baru bilang gabisa. Kita sudah janjian hari Rabu jam 10:00, eh Rabu jam 08:00 mereka membatalkan. That’s happened repeatedly. Oke, toko buku seems impossible.

Mimpi omzet 100 juta

“Ayo! omzet kalian harus 100 juta ya sampai akhir tahun ini!” Kata sang pembimbing kami dengan semangat pada sekitar 1 atau 2 bulan sejak kita berjalan. What? Tanggapan saya hanya, “amin, okedeh.” Just ‘amin’ yang dipenuhi rasa gak percaya. Oh God, 100 juta itu duit semua? Dapet dari mana? Jual kemana? Benar-benar seems impossible. Dan tulisan ‘omzet 100 juta’ yang terpampang di timeline kami hanya sekedar penyemangat yang entah kapan tercapai. Hanya tempelan sticky note di dinding agar terlihat keren.

Mimpi 1000 Binder

Lagi-lagi kami bermimpi asal nyeplos. Bisa gak ya kita jual 1000 binder sampai akhir tahun ini? Dalam visualisasi kami, 1000 binder itu……banyak sekali. Tergambar dalam pikiran, ada 1000 binder di rumahku dan aku tidur di atas tumpukan binder, “Se…ri…bu… sepuluh pangkat tiga.” Men, akeh yo? Visualisasi terhenti sampai di sana. Bodoh ah mau berapa binder, yang penting jualan aja. Seribu terlalu banyak kayanya.

Mimpi Bisa Bikin Binder Sendiri

Dulu tiap pulang kuliah dan sebelum berangkat kuliah, kami ‘mangkal’ dulu di stasiun. Kita ngambil binder-binder dari sana, seperti reseller-reseller lain. Kita pernah bolak-balik sambil bawa 20 sampai 40 binder. Dengan tas kresek super besar, tangan kanan-kiri full, kita jalan ngos-ngosan. Tiap beberapa meter berhenti, istirahat buat ambil napas, terus jalan lagi, terus berhenti lagi, “Gini kita harus bisa bikin binder sendiri nih, hosh hosh”, dan kita jalan lagi.

*****

Usaha ini baru berjalan mulai dari Juni akhir 2012. Sekarang sudah sekitar 4 bulan sejak kami mulai bergerak. Empat bulan yang lalu, yang ada dalam bayangan kami hanya, “yang penting mulai! Yang penting kita jalan!” Masalah toko buku atau omzet atau total penjualannya jauh sekali dari bayangan. Dulu, kami hanya ‘kroco-kroco’ yang bolak-balik jadi reseller stasiun.

*****

Sekitar sebulan lalu, saya bolos kuliah DDAK. Bukan karena malas atau ketiduran, tapi saya harus ke Pulo Gadung, mengantarkan 85 binder ke Toko Buku Tisera. Di jalan saya membayangkan apa yang kami pikirkan tentang toko buku saat itu. Apa yang kami mimpikan, apa yang kami khawatirkan, apa yang kami kerjakan, really does matter sekarang. Entah berapa kali kami mencaci maki orang-orang toko buku karena meremehkan kami, entah berapa kali kami terlihat norak di depan mereka saat menawarkan binder di Jakarta Book Fair dengan katalog yang kekanakan, entah berapa kali kami terlihat ngotot dan annoying karena menelepon mereka terus tiap hari. Dan sekarang saya bisa melihat produk kami di sebuah mall besar di Serang.

Dalam sebuah pembicaraan telepon dengan sang Ibu, “Udah berapa omzet kamu?” “Wah gatau deh.” Lalu kami menghitung kasar omzet kami, dengan rata-rata penjualan sebulan+proyek binder angkatan+proyek toko buku+proyek binder unpad+proyek 500 binder+dll. Kaget, 70-jutaan muncul sebagai hasil akhir perhitungan. Hey! Kami baru jalan 3 bulan! Lalu lagi-lagi kami menghitung, sudah berapa binder yang kita jadikan duit? Dengan menghitung semua rata-rata penjualan satuan+proyek2, kami lebih shock lagi. Lebih dari 1000. Untuk proyek saja, sudah 1000 binder dan itu belum ditambah dengan penjualan satuan kita yang biasanya per minggu antara 50-75 binder.

Sekarang, hampir tidak pernah saya bolak-balik kober untuk mengambil binder lagi. Karena sumber-sumber uang itu hanya berjarak beberapa langkah dariku. Kalau ada pemesanan tinggal ambil aja di kamar belakang. Kita bisa stok dan supply dari pembuat bindernya langsung –yang juga mensuply orang2 kober itu. Sudah banyak konsumen yang mampir ke tempat kami dan mengambil ratusan binder. Ketika teman-teman mampir ke tempat kami, mereka selalu berkomentar, “Han, ini namanya gudang! Gudang Binder beneran!” Mereka kaget melihat tumpukan binder dimana-mana.

Dan ketika dulu saya berpikir ini hanya sebuah usaha untuk menambah uang jajan beli cilok, ternyata it’s much much more than that. Alhamdulillah dari sini kami sudah bisa mendapatkan gaji yang kami tentukan sendiri berapa besarannya. Dan Alhamdulillah, kami sudah bisa berkurban dengan uang dari Gudang Binder dan bisa rutin berbagi ke orang-orang.

Campur Tangan Pihak Lain

Guys, trust me, it’s much more than our expectation. Gudang Binder lebih dari sekedar tumpukan binder, aku, kak ibnu, dan ibu yang membimbing. Ada Tuhan di sini. Ada Allah di setiap langkah dan usaha kami. Segala doa yang tidak sengaja terucap itu, mulai dari iseng-iseng toko buku sampai produksi, Allah yang mendengar.

“Han, kalau kamu mau usahamu bagus, berdoa sama Allah, niatkan dari awal bahwa usaha ini untuk kebaikan, agar kamu bisa mandiri, sedekah dan zakat yang banyak, bisa buka lapangan kerja, bisa naik haij. Niatkan untuk hal-hal yang baik, insyaAllah, Allah mengabulkan.”

Dalam doa saya hanya berharap pasrah, tidak berekspektasi terlalu tinggi, tidak berambisi terlalu kuat. Hanya berdoa semoga niat saya  yang baik-baik dimudahkan oleh-Nya.

Dan Alhamdulillah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya itu memang selalu mendengar setiap doa hambanya.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepadaKu, agar mereka memperolah kebenaran.” QS Al-baqarah:186

PS: sorry kalau ada yang ngerasa aku terlalu pamer dan riya di artikel ini. No offense kok. Hanya sekedar sharing tentang betapa Maha Kuasanya Tuhan kita 🙂

Advertisements

15 thoughts on “More Than That

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s