Dari Sampah Saja Orang Bisa Makan

“Saya dulu pernah kerja di instansi pemerintah, ketika itu gaji lumayan, kerjanya hanya bikin paper, paper dinilai, naik pangkat. Tapi saya tidak bahagia. Lalu saya memulai sebuah usaha dan mempunyai karyawan-karyawan. Dan ketika ada karyawan yang bilang sudah mulai cicil rumah, sudah bisa menghidupi keluarganya, hati saya bahagia. Dari sana bahagia berasal” – Ita Budi Radiyanti, eksportir.

Beliau bukan seorang artis TV yang terkenal, profesor universitas ternama, atau pendiri partai besar. Beliau adalah seorang pengusaha berusia separuh baya berjiwa selalu anak muda. Usahanya bukan tentang hal-hal elit seperti J.Co-nya Johnny Andrean atau parfumnya Choco Channel. Usahanya juga belum menjadi seuniversal dan sekaliber Bakrie Group-nya Aburizal Bakrie atau Google-nya Larry Page. Bu Ita adalah seorang pengusaha eksportir “sampah”. Yang beliau ekspor adalah sampah botol plastik yang di Cina akan dijadikan benang, kotoran kelelawar yang di Amerika akan dijadikan pupuk, atau tulang-tulang ikan yang dikirim ke Jepang dan di sana dijadikan pupuk organik. Beliau menjual barang-barang yang di sini dianggap tidak berguna lagi, dan membuat manfaat dari sana.

Lewat berbagai macam “sampah” itu, sekarang sudah banyak orang yang hidupnya bergantung dari usaha yang dijalani oleh Bu Ita. Banyak orang yang dari usaha itu dapat menghidupi keluarganya dan dapat menjadi kebanggaan keluarganya. Kebergantungan itulah yang menjadi motivasi beliau untuk terus maju. Ketika banyak orang mengandalkan usaha itu untuk terus hidup, tidak ada alasan untuk berhenti dan menyerah.

Itu pula yang selalu beliau ajarkan kepada anak-anaknya. Bukan sekedar menjadi ketua berbagai macam organisasi dan kepanitiaan atau menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi, tetapi menjadi orang yang bermanfaat bagi semesta. Bukan sekedar menjadi pembicara di berbagai seminar atau tampil di TV, tapi menjadi orang yang bisa menghidupi orang lain. Menjadi orang kaya yang zakat dan sedekahnya banyak. Menjadi orang yang langsung menginjak bumi dan menjadi bagian dari solusi.

Dengan ‘doktrin’ tersebut, beliau mengenalkan saya pada sebuah hakikat kebahagiaan. Ketika banyak orang merasa iri dengan orang-orang yang menjabat sebagai ini-itu, sering ke luar negeri untuk conference atau memenangi berbagai macam lomba, beliau mengajarkan kami untuk berpikir beda. “Iri itu sama orang yang benar-benar sudah nginjek bumi, yang sudah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dan bermanfaat bagi sesama, baru kamu iri.” Menurut beliau, kebahagiaan bukan muncul dari tingginya jabatan, besarnya gaji, atau tingginya nilai IP. Kebahagiaan itu datang ketika melihat orang lain bisa makan dari uang yang kita beri, bisa masuk PTN karena ilmu yang kita salurkan, bisa rajin sholat karena bimbingan kita, atau sekedar bisa lebih tenang karena curhat dengan kita. Bagaimana orang bisa “hidup” karena kita, menjadi sebuah kunci kebahagiaan yang selama ini dicari-cari.

“Dari sampah aja orang bisa makan.” -Bunda Ita ❤

Advertisements

One thought on “Dari Sampah Saja Orang Bisa Makan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s