Perubahan

Dua tahun lalu, pas masih di Surabaya aku adalah anak yang serba enak. Kemana-mana minta antar atau nebeng sama temen. Gak berani kalau bawa motor sendiri di jalan raya. Naik angkot dari sekolah ke rumah aja rasanya udah males banget. Apalagi disuruh naik bis kota, oh tidak bisa. Terus kalau makan selalu serba enak dan semaunya. Kadang malah di rumah adanya makanan apa, tetep aja beli makanan yg lebih enak di luar. Kalau malam-malam lapar, tinggal buka kulkas dan goreng makanan instan. Tiap pagi biasanya galau mau pake baju apa, gara-gara kebanyakan baju di lemari. Baju kotor sedikit langsung masukin mesin cuci, besoknya juga udah nangkring lagi di lemari. Kalau pergi jalan-jalan ke semacam Giant atau Hypermart, jarang merhatiin harga barang, asal klik aja ‘add to cart’. Beli buku juga suka-suka hati mau berapa banyak.

Dulu, hidup itu indah.

Sekarang, pas lagi di ibu kota aku adalah anak yang tidak serba enak. Kemana-mana gabisa ngandelin nebeng atau minta antar. Naik motor di jalanan macet dan ramai sekarang gempil. Dari Depok ke Bekasi naik kereta, angkot 2x, dan ojek pun it’s okay. Yang lebih wow lagi, sekarang udah pernah dong naik bis kota (tapi Kopaja tetep gamauu!). Dari Cengkareng ke Depok bisa dong jalan sendiri sambil nenteng-nenteng koper menjelajahi jalanan ibu kota. Terus kalau makan, warteg adalah choice terindah. Pernah malah karena kekurangan duit, untuk mengganti makan malam (malam itu harus makan, karena siang dan paginya belum makan) aku cuman beli bakpau seharga Rp 3000. Kalau malam-malam lapar, tinggal cepat-cepat tidur biar ga kerasa laparnya. Tiap pagi biasanya galau mau pake baju apa, gara-gara harus memikirkan kombinasi pakaian yang gak itu-itu-aja dengan pilihan yang sedikit. Atasan dan bawahan harus digunakan semaksimal mungkin. Kalau masih layak pakai (biasanya bawahan sih) digantung dululah biar besok bisa dipakai lagi. Kalau sudah kotor dan gak layak pakai, baru taro di ember, besoknya ngucek baju sendiri kaya di iklan detergen. Kalau jalan-jalan, harga menjadi pertimbangan. Di depan display jadi lebih lama, harus berpikir dulu beberapa kali untuk memutuskan apakah barang itu masuk ke keranjang, apakah barang itu dibutuhkan atau sekedar pengen. Beli buku juga harus pilih-pilih, mana yang lebih dibutuhkan. Jadinya sekarang harus nyari duit, bukan cuman buat jajan aja, tapi buat hidup. Yah kadang-kadang relainlah jauh-jauh privat ke kalimalang atau sekedar ngasdosi buat duit jajan. Selain itu tiap hari harus nge-binder biar bisa hidup sampai tua nanti.

Sekarang, hidup ini lebih indah. Lebih seru, lebih gaul.

Advertisements

2 thoughts on “Perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s