Tidak Habis Pikir

Malam itu, di sebuah tempat makan,

“Mulai tahun depan, Unas akan dipakai untuk ujian masuk perguruan tinggi”

“Kenapa Pak?”

“Ya karena banyak guru-guru yang protes, biar Unas dipakai. Jadi 60% seleksi dengan Unas, 40%nya mandiri”

“Tapi kan UNAS banyak kecurangan?”

“Iya, makanya tahun depan mau dibuat 20 macam soal. 40%nya juga masih dipegang sama universitas masing-masing”

“Jalur mandiri itu yang biasanya mahal kan?”

Pembicaraan tersebut berlanjut tanpa konklusi. Yang pasti, keputusan Unas akan dipakai untuk seleksi masuk perguruan tinggi tidak akan berubah karena pembicaraan kami di malam itu.

Ujian Nasional. Ujian yang diadakan setiap tahun itu sebenarnya gak susah-susah banget kok. Dibandingkan soal SNMPTN tulis atau Simak, Unas ini ibaratnya ga usah belajar. Apalagi, beberapa tahun terakhir ada keputusan yang bilang kelulusan 40%nya dari ujian sekolah, dan sisanya baru dari hasil Unas. Setidak-tidaknya, 40% kemungkinan kelulusan itu masih berada di tangan sekolah, yang pastinya menginginkan muridnya lulus semua. Tambah lagi, jumlah jenis soal Unas ada 5, sebelumnya cuman ada 2. Pasti cukup kerepotan kalau harus membawa 5 kemungkinan. Dengan adanya kebijakan tersebut, dulu aku kira terjadinya kecurangan akan menurun cukup lumayan, toh ketakutan untuk lulus juga seharusnya menurun kadarnya. Tapi ya gitu, ekspektasi dan realita jarang akurnya. Di kelasku saja, yang terhitung sebagai kelas yang cukup apik dan baik, bisa dihitung berapa jumlah anak yang lulus dengan indah. Seorang teman yang saat itu bermaksud baik dengan menghimbau teman-temannya untuk jujur saja, sempat jadi bahan gunjingan dan cukup dijauhi. Beberapa teman yang aktif di kegiatan agama dan biasanya menjaga akhlaknya pun, masih segitu takutnya untuk tidak lulus. Bahkan, seorang teman yang pernah menjabat sebagai ketua organisasi berbasis agama malah menjadi salah satu koordinator tindak kecurangan di sekolahnya (yang menghubungi pihak gelap, mengkoordinasi setiap kelas, dsb).

“HPku lho ilang kan kemarin, awalnya mamaku ga mau beliin HP baru. Terus aku bilang, kalau ga ada HP ga bisa liat jawaban Unas dong ma. Terus langsung dibeliin HP baru sama mamaku malamnya. Hahaha.” Di sebuah obrolan biasa.

“Makanya, nanti kalian itu kerja sama, yang pinter bantu yang kurang. Biar lulus semua. Diucapkan oleh seorang guru, di saat jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Itu dulu, Unas yang ‘hanya’ menjadi 60% penentu untuk ‘sekedar’ lulus saja.

Kalau nanti Unas akan dijadikan sebagai penentu seleksi masuk PTN sebanyak 60% dan ketika 40% sisanya dibeli dengan harga mahal…

Dua puluh jenis soal itu sangat sedikit, bukan sebuah hambatan besar. Khususnya untuk anak-anak yang over-scared, mengalamai degradasi kepercayaan diri, dan sangat ingin merasakan bangku kuliah murah.

Harga kunci jawaban pasti akan melonjak, yang sebelumnya sekitar 10-50 juta (yang kemudian dibagi satu sekolah jadi per anak kira2 60rban) bisa jadi ratusan juta. Dan, selama kondisi anak kelas XIInya masih kayak gitu, para penyedia kunci jawaban itu bisa langsung beli mobil.

Kalau sebelumnya saja, anak-anak yang tergolong ‘alim’ malah jadi panglima perangnya dan beberapa guru menjadi pendukung gerakan rakyat ini……apakah nanti akan ada ijazah yang bisa dipertanggungjawabkan?

Nanti, akan sangat banyak anak yang mendapat nilai sempurna. Yakin deh, dengan selisih tipis-tipis antara nilai anak satu dengan yang lain, tim penyeleksi akan bingung. Ketika beda 0,01 poin jadi penentu siapa yang beruntung, ga ada lagi yang takut kalau harus nyontek kunci jawaban sama plek, yang penting dapat nilai paling tinggi.

Sisa seleksi masuk PTN (40%) nantinya akan diadakan secara mandiri oleh masing-masing PTN. Dogma yang beredar, jalur mandiri=jalur mahal. Kemana larinya mereka yang kurang mampu? Bantu bapake jadi petani atau tukang getek?

Entahlah, terlalu jelas apa yang nantinya akan terjadi. Ya begitu, kalau orientasi pendidikan hanya sebatas nilai dan kelulusan. Kalau yang namanya kejujuran dan budi pekerti hanya sebatas materi PKn SD -yang kita tidak perlu belajar untuk ujiannya.

“Ayo anak-anak yang dapat nilai bagus nanti dapat hadiah!”

“Belajar yang rajin ya, soalnya yang rankingnya 3 besar nanti dapat piala!”

“Ayo belajar! Biar dapat hadiah dari Bu Guru!”

Belajarlah mereka, dengan semangat mendapat poin bintang, hadiah (yang biasanya berisi buku tulis dan pensil), piala yang besar, pujian, dan tepuk tangan.

“Bapak lupa kelas 4 atau 5 SD. Bapak belajar bukan untuk menjadi pintar atau juara, tapi agar bisa memahami alam semesta dan seisinya.” -manusia yang paling jujur dan disiplin yang pernah saya temui. 

Orientasi. Tidak habis pikir. Hahahaha.

PS: Sebelumnya aku pernah baca di blog temenku tentang Unas dan kabar-kabar kalau itu akan jadi penentu masuk PTN. Sampai berita itu datang lagi langsung di telinga, rasanya masih nyesek, ga rela, emosi. Tidak habis pikir aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s