Selisih

Beberapa waktu terakhir ini lagi ngetren yang namanya pencitraan. Biasanya pencitraan diri terhadap adik-adik baru yang masih polos dan ingusan, followers twitter, lawan jenis, atau ruang publik manapun. Pokoknya pencitraan, nge-branding-in diri sendiri, biar keren, biar oke.

Sebenarnya, aku punya beberapa pengalaman dengan namanya pencitraan. Biasalah, zaman maba dulu banyak orang-orang yang terlihat eksis dan gawl abis berkeliaran sambil terlihat sebagai pahlawan kampus. Aku yang masih polos, lugu, dan ingusan cuman bisa bilang wow seperti orang ndeso. Hanya melihat dan memahami, “oh yang keren kaya gini toh”.  Mereka bicara dengan berbagai gaya bahasa, kosa kata serapan, istilah-istilah yang hanya ada di KBBI, atau kutipan keren dari tokoh besar maupun kitab suci. Menarik. Setidaknya sempat berhasil untuk kelihatan keren, di mataku.

Alhamdulillah dalam beberapa waktu ini diberi kesempatan untuk mengetahui kehidupan personal mereka lebih dekat. Ternyata, ya memang ada sisi hebat dan luar biasa yang membuat mereka punya kesempatan untuk pencitraan di ribuan orang sekaligus. Tentang visi mereka yang super sekali, wawasan dan kepedulian yang luas, jaringan dan eksistensi yang melebar, sikap-sikap visioner, pintar, sistematis, religius, dan hal-hal keren lainnya itu sudah jauh banget dibanding punyaku yang sebesar upil ini.

Tapi ada beberapa juga yang pencitraannya luntur di mataku.  Dan setiap ada peristiwa lunturnya pencitraan, emosiku selalu menolerir pada awalnya. Suatu toleransi yang timbul karena dia pernah terlihat sangat keren di mata ini. Tapi ya gitu, semakin menolerir, semakin jelas bahwa mereka, yang dulu kelihatan sangat eksis itu, bukan manusia yang keren. Karena sering kali kata-kata kerennya itu cuma mantul-mantul di udara dan tidak paralel dengan apa yang dia lakukan.

Satu semester cukuplah buat aku untuk lebih teliti dalam menilai kekerenan seseorang. Lumayan, masih sempat untuk menjadi lebih selektif lagi. Sebenarnya, sangat gapapa kalau orang melakukan pencitraan sekeren apapun. Tapi yang bikin menghela napas itu, kalau selisih antara pencitraan dan apa adanya itu terlampau jauh. Karena setiap satuan penurunan kekerenan itu menghasilkan suatu kekecewaan. Yang tentu saja sangat berbanding lurus dengan penurunan kepercayaan orang terhadap dirinya. Padahal kepercayaan adalah modal penting untuk hidup.

Masalahnya adalah gimana caranya ngatur biar selisih antara pencitraan dan apa-adanya itu ga banyak.

Advertisements

2 thoughts on “Selisih

  1. aku termasuk orang yang gampang norak ktk bertemu orang yg di awal2 kamu ceritakan. tetapi sampai sekarang blm pernah dikasih kesempatan utk melihat mrk berbeda. sejauh ini orang2 yg ku-Wow-in belum prnah mngecewakan.
    nanti di kampus mgkn ya._.a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s