Doktrin

Dulu, pas SD, aku pernah baca komik Detektif Conan, kayaknya sih volume 2. Di sana ada trivia yang bilang kalau si Sinichi itu (tokoh utama) ga suka sama kismis. Pas itu aku yang lagi ngefans sama Sinichi, memutuskan untuk ikut-ikutan tidak menyukai kismis, dengan dasar mencari persamaan dengan si tokoh detektif fiktif itu.

Sekarang, kismis masih menjadi salah satu makanan yang ga bisa aku makan. Nemu ada kismis nyempil di mulut pasti aku lepas dia dari balutan salivaku.

Dulu, pas SD lagi, temanku ada yang geli atau takut sama kecoa, cicak atau hantu. Jadi kalau di kelas ada cicak merayap atau ada kecoak lewat atau ada gosip hantu di kelas, ada teriakan cewek-cewek sok imut “aaaw! kyaa! kyaa!”. Nah, aku yang gak takut sama sekali dengan cicak, kecoak, dan hantu, merasa agak garing dan perkasa. Beberapa waktu kemudian, aku menemukan buku ensiklopedi tentang serangga yang gambar covernya itu ulat, hijau, besar, menjijikkan. Melihat aku masih ga tau harus takut sama apa dan sepertinya gambar ulat itu cukup menjanjikan, akhirnya aku memutuskan ulat sebagai sesuatu yang aku takuti. Berhasillah aku masuk dalam himpunan cewek sok imut yang lemah terhadap sesuatu dan perlu dilindungi. ugh.

Sekarang, ulat masih menjadi salah satu hal yang aku takuti. Kalau ngeliat foto ulat aku bisa teriak dan lari, ngeliat ulat di dedaunan bisa langsung kabur, atau bahkan ada temenku yang pernah iseng berbisik dengan lirih, “han…ada…ulat”, dan aku langsung teriak, kencang. Bahkan aku pernah beberapa kali bolos les dengan alasan, daun-daun di pepohonan sepanjang jalur lesku itu lagi habis dimakan ulat. Membayangkan ada ulat dari pohon-pohon itu jatuh di depan helmku, lebih baik ga ikut les beberapa kali.

Ulat dan kismis adalah hasil nyata dari self-controllingku. Betapa mindset pas SD yang aku masukkan dulu -walaupun dengan alasan yang ga banget- masuk ke dalam hidupku, ga sekedar masuk ding, merasuk sampai ke dalam tulang rusuk, sampai sekarang.  Ternyata manusia itu punya kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri, even for simple things as ulat dan kismis.

Sebenarnya agak menyesal juga sih, kenapa dulu itu aku ga masukin hal-hal yang jelas baik aja. Kayak misalnya, “Hana, kamu harus disiplin dan jujur” atau “Hana harus rajin belajar”.  Kan kayanya bakal lebih bermanfaat kalau aku masukin mindset kaya gitu. Dan sekarang, berusaha masukin mindset tentang kerajinan, konsistensi, perjuangan, dsb kok rasanya ga segampang masukin mindset tentang ulat dan kismis. Apakah karena sel abu-abu ini sudah terlalu sombong untuk didoktrin? Atau mungkin karena logika pikiran ini terlampau tidak canggih sehingga filterasi pemikiran tidak berjalan sempurna?

Mungkin nanti anakku akan aku cuci otaknya dan memberikan doktrin-doktrin yang bagus. Karena sepertinya, anak-anak kecil lebih gampang didoktrin dan cuci otak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s